Senin, 31 Desember 2012

Cara merawat DOC anak ayam supaya tidak mudah mati

Cara merawat DOC anak ayam supaya tidak mudah mati
Memelihara DOC anak ayam memang butuh perhatian ekstra supaya tidak mudah mati, nah kali ini saya berikan tips cara memelihara DOC anak ayam supaya tidak mudah mati. 

Untuk ayam yang baru menetas dari induk nya, misalnya ayam menetas awal pagi, anak ayam tersebut jangan langsung di ambil, biarkan dulu tinggal sama induk nya di sarang, kira2 selama 17 jam.

Ketika ayam mau di masukan ke dalam kotak kandang, sebaiknya, nyalakan lampu yang ada di dalam kotak tersebut, 2 jam sebelum anak ayam / DOC di masukan. Didalam kotak tersebut, jangan menggunakan sekam sebagai alas nya, sebaiknya menggunakan koran bekas sebagai alas (pengganti sekam). gunakan sekam setinggi 5 lembar. Jadi koran bekas (tapi bersih) di tumpuk setinggi 5 lembar, didalam kotak tersebut, agar kondisi suhu di dalam kandang buatan tsb tetap stabil.

Pemberian Air Minum:
Masukan air minum di galon yang berukuran kecil dengan sedikit campuran vitamin. Misalnya untuk ayam 75 ekor s/d 100 ekor:

* vitamin C - 1 gr
* vit E & selenium - 1 gr
* glucoline - 5gram/liter air

Jika anda tidak mempunyai vitamin2 tersebut, kita bisa membeli glukosa yang biasa di gunakan untuk minuman anak kecil , atau cari saja di toko dengan menanyakan glucoline atau glucose. Tujuan di beri glucoline adalah, untuk mengurangi dehidrasi selama di sarang atau di mesin tetas, atau selama perjalanan (kalau membeli anak ayam dari tempat jauh)

Untuk 100 gram glucoline bisa menghasilkan
* Energy- 375 (kcal)
* carbohydrates 99 gram
* vit c 100 mg

Bagai mana jika tidak menemukan glucoline? tidak di dapat di toko atau mahal? Jangan kuatir kita akan mencari alternative lain yang fungsi nya sama.

Gunakan gula merah sebagai pengganti dari glucoline:
Gula merah di sini adalah gula aren , tahu tidak gula aren? saya juga sering melihat gula merah di pasar, akan tetapi gula tersebut bukan gula aren, tapi gula yg terbuat dari tebu, ya tidak apa2 walaupun tidak ada gula aren, gunakan saja gula merah yang di buat dari tebu , akan tetapi bila gula aren ada, sebaiknya gunakan saja gula aren.

Dosis gula merah untuk 75 ekor ayam:
Dosis yang di gunakan adalah , 2 gram gula merah, di campur dengan air 1 sampai 1,5 litter, hati2 jika dosis yang di gunakan berlebihan, anak ayam atau DOC akan mengalami mencret.

Cara penyajian:
  • Rrebus air 1.5 liter sampai mendidih
  • Masukan gula merah kedalam air yang masih mendidih tunggu sampai hancur.
  • Jika gula merah sudah masak (menurut perkiraan) dinginkan air rebusan gula merah tersebut, ketika sudah dingin, berikan kepada anak ayam yang berada di kotak pemanas tadi.
Jika gula merah tidak ada, boleh juga menggunakan semangka merah yang sudah masak, buang bijinya dan kasih semangka kepada anak ayam, sebagai makanan pertama .

Semangka adalah sudah lama di gunakan untuk menghantar anak ayam ke tempat yang jauh, saya juga sering memberikan buah semangka ke pada anak ayam, jika anak ayam mau di hantar keluar negri, atau kira2 perjalanan melebihi 10 jam.

Sebelum memasukan anak ayam kedalam kotak tersebut, kehangatan sudah mencapai 30 sampai 32 derajat celcius, atau minimal 28 samapi 30 derajat celcius. Jika pemanas sudah di masukan dan air juga sudah di siapkan, dan suhu kehangatan sudah stabil, lalu kita masukan anak ayam kesayangan kita yang 75-100 ekor tsb, tapi jangan di kasih makanan dulu. Biarkan anak ayam atau DOC meminum air gula sampai 2 jam, untuk memastikan anak ayam minum air gula tersebut. Ketika 2 jam sudah berlalu, dan anak ayam sudah minum air gula tsb, (gula sebagai alternative untuk menggantikan glucoline atau elektrolite yang berfungsi untuk mengembalikan atau menstbabilkan energy yang ada di dalam tubuh ayam, jika ayam mengalami dehydrasi , maka dengan memberikan air gula, glucoline, elektrolyte dll, cairan di dalam tubuh ayam akan kembali normal.)

Dua jam sudah berlalu, kita tinggal meberi makanan anak ayam, untuk makanan, sebaiknya mebeli makanan untuk broiler starter, atau untuk permulaan, sebelum di berikan kepada anak ayam, sebaiknya makanan tersebut kita tumbuk dulu, untuk memastikan butiran makanan lebih kecil. hanya untuk makanan pertama saja kita tumbuk sampai halus, untuk kedua kalinya , makanan tsb, tidak usah di tumbuk lagi, karena anak ayam sudah mengetahui cara makan nya.

Jika tidak di tumbuk, atau butiran makanan terlalu besar, anak ayam yang baru berusia satu hari ini, akan mengalami kesulitan dalam pemakanan, jadi kalau makanan di tumbuk dulu, anak ayam akan langsung bisa menelan butiran yang kecil, dan akan semaik cepat memakan makanan yang kita berikan tadi.
(sumber : teknikpanduanbeternakpakanpeternakan.blogspot.com)

Menengok sistem perkandangan ayam petelur di luar negeri

Menengok sistem perkandangan ayam petelur di luar negeri - Sejak Januari 2012 Directive Council (DC) Uni Eropa telah melarang sistem peternakan ayam petelur dengan menggunakan kandang tradisional. Hal tersebut akan membuat perubahan besar pada industri peternakan ayam petelur di Eropa yang harus merubah sistem perkandangannya untuk mengikuti aturan DC ini. Sistem perkandangan ayam petelur tradisional atau yang di Eropa di sebut Conventional Laying Cages (CC) harus dirubah menjadi beberapa alternatif, seperti Furnished Enriched Cages (FC) atau Non-Cages System. Berikut gambar alternatif-alternatif yang diterapkan di peternakan ayam petelur di Eropa :

Large group furnished range cages
Large group furnished range cages. ini mampu menampung 60 ayam perbarisnya. Sistem ini adalah sistem yang membutuhkan biaya mahal, tetapi lebih efektif dan efisien dari sistem manapun dalam hal hasil telur, konversi pakan, kesehatan ternak dan mortalitas.
 Multi-tier aviary system

Multi-tier aviary system
, sistem ini adalah termasuk sistem non-cages atau bebas, tetapi indoor.
 Wooded Free-range

Wooded Free-range
adalah sistem dimana ayam dibebaskan di alam dengan dibatasi oleh dinding kayu pada radius tertentu. Telur jenis kandang ini harganya lebih mahal dan banyak dicari oleh konsumen di Eropa.
 Indoor range of rondeel system

Indoor range of rondeel system
, sistem ini hampir sama dengan wooded free-range tetapi sisi terluarnya dibatasi dengan tirai.
(sumber: pasarpetani.com)

Teknik beternak ayam petelur

Teknik beternak ayam petelur
Teknik beternak ayam petelur - Ayam petelur adalah ayam betina yang khusus di ambil telurnya. Ayam petelur dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan jika dilakukan secara intensif. Berikut ini adalah jenis-jenis ayam petelur
Ayam petelur ada dua jenis, yaitu Ayam petelur medium dan ayam petelur ringan.

1. Ayam Petelur Medium
Ayam petelur medium cirinya khasnya adalah bobotnya yang cukup berat. Ayam petelur medium dapat memproduksi telur yang cukup tinggi. Dagingnya juga cukup banyak sebab bentuk badannya yang cukup besar. Oleh sebab itulah ayam petelur medium juga di sebut sebagai ayam dwi guna, artinya ayam yang memiliki  manfaat ganda yaitu dapat menghasilkan telur dan dapat menghasilkan daging.

Ayam petelur medium umumnya berbulu coklat dan telur yang dihasilkan juga berwarna coklat. Harga telur coklat umumnya harganya lebih mahal disbanding telur yang berwarna putih sebab yang berwarna coklat bobotnya lebih berat dari yang berwarna putih. Walaupun nilai gizinya sama umunya orang lebih menyukai yang berwarna coklat daripada yang berwarna putih.

2. Ayam Petelur Ringan


Ayam petelur putih adalah sebutan yang lain bagi ayam petelur ringan. Ciri-cirinya sebagai berikut :
  • Bulu berwarna putih.
  • Badan ramping.
  • Mata bersinar
  • Jengger berwarna merah.
Ayam petelur ringan mampu menghasilkan lebih dari 260 butir telur per tahun. Ayam petelur ringan mempunyai kelemahan meskipun produksi telurnya cukup banyak.  Yaitu sangat peka terhadap keributan dan cuaca yang panas, ayam ini juga mudah kaget, jika kaget maka produksi telurnya menurun.

Penyiapan Bibit
Induk yang memiliki sifat-sifat unggul dapat menghasilkan bibit yang berkualitas.
Adapun sifat-sifat unggul yang harus dimiliki calon induk adalah sebagai berikut.
  • Masa betelurnya dalam kurun waktu yang lama.
  • Pertumbuhan badannya sangat bagus.
  • Daya tahannya terhadap penyakit cukup kuat.
  • Konversi ransum atau konversi makanannya rendah. Konversi ransum adalah perbandingan antara berat ransum yang dihabiskan dan berat telur yang dihasilkan.
  • Produktivitas dan bobot telur yang dihasilkan cukup tinggi.
  • Bulu-bulunya terlihat halus dan penuh.
  • Tubuh tampak sehat dan tidak memiliki cacat.
  • Mempunyai ukuran tubuh yang normal, dengan bobot antara 35 – 40 gram.
  • Memiliki nafsu makan yang baik.
  • Di duburnya tidak terdapat bekas tinja.
Pemberian Pakan
Ayam petelur memiliki dua fase, yaitu fase starter (umur 0 – 4 minggu) dan fase finisher (umur  4 – 6 minggu). Pemberian pakan dibedakan menurut fase umur tersebut. Perbedaannya terletak pada persentase zat gizi dan kuantitas pakan.

1. Pakan Fase Starter
Pakan fase starter tediri atas: protein 22 – 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%. Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.
* Minggu pertama (umur 1 – 7 hari): 17 gram/hari/ekor.
* Minggu kedua (8 – 14 hari): 43 gram/hari/ekor.
* Minggu ketiga (umur 15 – 21 hari): 66 gram/hari/ekor.
* Minggu keempat (umur 22 – 29 hari): 91 gram/hari/ekor.

2. Pakan Fase Finisher

Pakan fase finisher terdiri atas: protein 18,1 – 21,2%, lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%. Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.
* Minggu kelima (umur 30 – 36 hari): 111 gram/ hari/ ekor.
* Minggu keenam (37 – 43 hari): 129 gram/ hari/ ekor.
* Minggu ketujuh (umur 44 – 50 hari): 146 gram/ hari/ ekor.
* Minggu kedelapan (umur 51 – 57 hari): 161 gram/ hari/ ekor.

Selain pakan, ayam juga diberi minum. Air minum untuk hari pertama sebaiknya ditambah gula sebanyak 50 gram per 1 liter air dan obat antistres.


Pencegahan Penyakit
Serangan penyakit dapat dicegah dengan menjaga kebersihan kandang. Kandang harus selalu dibersihkan. Jika ada bagian yang rusak, harus segera diperbaiki. Agar kebal dari penyakit yang disebabkan virus, ayam perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi untuk ayam antara lain vaksin NCD, vaksin cacar, dan vaksin anti-RCD. Ayam yang akan divaksinasi harus dalam keadaan sehat. Dosis vaksin juga harus tepat. Selain itu, alat yang digunakan juga harus steril.

Pemanenan
Telur sebaiknya dipanen tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Dengan demikian, kerusakan isi telur akibat virus dapat dihindari atau dikurangi. Telur selanjutnya diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Telur abnormal harus dipisahkan dari telur normal. Telur normal berbentuk oval, bersih, dan berkulit mulus. Beratnya sekitar 57,6 gram dengan volume 66 cc. Sementara telur abnormal adalah telur yang terlalu kecil, terlalu besar, bentuknya lonjong, atau kulitnya retak.
(sumber: peluangusaha-oke.com)

Jumat, 28 Desember 2012

Gejala penyakit marek pada ayam dan pencegahannya

Gejala penyakit marek pada ayam dan pencegahannya
Penyakit Marek tidak pandang bulu. Ayam ras petelur maupun ayam ras pedaging diserang. Namun untuk kenal tanda-tanda penyakit Marek butuh jam terbang. 

Kerugian ekonomis yang disebabkan oleh penyakit Marek adalah : 
1) Mortalitas/angka kematian tinggi (dapat mencapai 30% atau lebih); 
2) Pengafkiran ayam lebih dini; 
3) Produksi telur buruk; 
4) Penampilan umum buruk dan 
5) Biaya vaksinasi dan tenaga kerja.

Penyakit Marek menyerang organ dalam tubuh ayam. Penyebabnya adalah virus Marek. Ayam muda mati secara cepat dan angka kasusnya tinggi. Kini, yang menyerang adalah penyakit Marek bentuk ringan. Berbagai catatan lapangan menunjukkan ayam bisa terserang pada umur 4 minggu atau lebih. Paling banyak pada umur 12 14 minggu. Ayam yang terserang organ dalamnya secara akut (mendadak) sebagian besar depresi sebelum mati. Sebagian tanpa gejala tertentu. 

Gejala umum terserang Marek adalah : 
  1. Kelumpuhan pada satu atau dua kaki atau sayap, 
  2. Ayam mengalami dehidrasi (kehilangan cairan tubuh) sehingga ayam menjadi kurus kering, 
  3. Proventrikulus mengalami tumor, limpa, hati dan ginjal membesar, 
  4. Kepala yam bisa menggantung dan meluntir, 
  5. Tembolok melebar dan sulit bernafas, 
  6. Pucat, 
  7. Berat badan turun, 
  8. Tidak punya nafsu makan dan diare. 
Salah satu pembawa penyakit Marek dan penyakit lainnya pada ayam, seperti Salmonelosis, Cacar ayam, Koksidosis dan ND (Newcasle disease) yaitu hewan kumbang. Virus Marek yang betah pada lingkungan buruk, ‘dipelihara’ oleh kumbang dalam tubuhnya. Ketika dikonsumsi oleh ayam, kumbang membawa kuman penyakit ini. Dengan mudah bibit penyakit Marek pindah dari tubuh kumbang ke tubuh ayam. Marek pun menjalar. Munsulnya kumbang di peternakan, sangat mudah terjadi. Kumbang dewasa maupun larva (yang dikenal sebagai cacing penghancur tanaman) sangat menyukai pakan unggas, padi-padian dan biji-bijian yang basah, lembab, berjamur dan kondisinya buruk. Tempat yang disukai adalah litter yang kondisinya buruk, basah dan lembab sangat mudah menjadi sarang penyakit, ataupun vektor pembawa bibit penyakit seperti cacing, tungau, kutu caplak. Kumbang juga sangat suka bersembunyi pada celah-celah sempit antar ruas-ruas kayu kandang pemeliharaan kandang. Untuk mengatasi kumbang penyebar virus Marek dan kuman penyakit yang lain ini, peternak harus memperketat biosekuritas dan sanitasi/kebersihan lingkungan. Ada yang mencuci kandang dengan desinfektan pembunuh ektoparasit. Mereka juga membabat rumput sekitar kandang, karena bisa menjadi tempat ‘mangkal’ kumbang yang tak terduga. Kumbang suka makan sisa-sisa tanaman dan bahan oraganik lainnya. Dengan kata lain, para peternak harus menghilangkan atau membasmi kumbang dari kandangnya.

Cara pencegahan terhadap penyakit Marek dan penyakit lain, selain dengan menjaga kebersihan/sanitasi kandang dengan memperketat biosekuritas, juga dengan meningkatkan kekebalan tubuh ayam dengan melakukan vaksinasi Marek dan pemberian pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ayam secara lengkap. Viterna merupakan pakan tambahan yang sangat tepat bagi ayam, karena mengandung protein, vitamin dan mineral yang sangat berperan dalam menjaga kestabilan metabolisme tubuh ayam, sekaligus Viterna berperan dalam mempercepat pertumbuhan ayam sehingga produktivitas ayam dapat maksimal. Dosis pemberian Viterna adalah 1 tutup botol Viterna dicampurkan 10 liter air minum diberikan setiap hari untuk ayam pedaging, dan setiap 3 hari sekali untuk ayam petelur.
(sumber: nirhono.wordpress.com)

Minggu, 23 Desember 2012

Penyakit prolapsus atau terjadinya pendarahan saat ayam bertelur

Penyakit prolapsus atau terjadinya pendarahan saat ayam bertelur
Prolapsus merupakan kejadian dimana saat saluran telur (oviduct) ayam berkontraksi untuk mengeluarkan telur, akan tertahan oleh lemak abdomen (lemak perut) dan akhirnya saluran reproduksi ikut keluar dan terjadilah pendarahan. Adanya timbunan lemak tersebut juga akan menghambat proses pembentukan telur (produksi telur rendah).

Kejadian prolapsus akan sangat berakibat fatal karena berdampak pada kerusakan permanen saluran telur sehingga ayam berhenti berproduksi. Oleh karena itu, kasus prolapsus tidak dapat diobati namun hanya bisa dicegah dengan cara:
  • Lakukan kontrol BB secara rutin dan ketat mulai pada masa pullet, setidaknya 1 minggu sekali dengan jumlah sampel minimal 100 ekor per kandang. BB pullet dikatakan sesuai standar jika ± 10% dari standar BB yang dikeluarkan breeder (manual guide). Selain BB, keseragaman BB juga harus diperhatikan. Keseragaman yang baik yaitu lebih dari 80%. Saat BB ayam tidak sesuai standar, maka perlu segera dilakukan treatment (penanganan) sehingga BB bisa sesuai dengan standar kembali.
  • Atur program pencahayaan sesuai kebutuhan. Jangan memberikan pencahayaan dengan lama waktu dan intensitas yang berlebih. Pencahayaan untuk masa layer sebaiknya diberikan selama 16 jam, yaitu12 jam dari sinar matahari dan 4 jam dari cahaya lampu dengan intensitas 20-40 lux.
  • Berikan ransum dengan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam, terutama kandungan energi metabolisme dan protein (asam amino) untuk setiap periodenya. Pada periode grower lebih rendah dibanding pada pemeliharaan periode starter dan layer.
  • Jaga kondisi farm agar nyaman untuk pemeliharaan ayam, seperti tersedianya ventilasi udara yang cukup agar sirkulasi udara lancar sehingga kandang tidak terlalu panas/pengap. Selain itu, agar oksigen tersedia dalam jumlah cukup. Hindari juga hal-hal yang menyebabkan ayam stres agar BB ayam tetap konsisten sesuai standar.
Jika sudah terjadi kasus prolapsus, maka tindakan penanganan yang kami anjurkan yaitu :
  • Culling atau afkir ayam yang telah mengalami kasus prolapsus tersebut, karena sudah tidak produktif lagi
  • Jika umur ayam masih dalam kategori produktif, seleksi ayam-ayam dengan berat badan melebihi standar. Tinjau formulasi ransum atau kurangi jumlah pemberian ransum
    (sumber: info.medion.co.id)

Perhatikan aturan pakai obat supaya kerja obat bisa optimal

Perhatikan aturan pakai obat supaya kerja obat bisa optimal
Kunci sukses pemeliharaan ayam ditunjukkan dari tingkat produktivitas yang optimal, yaitu pertumbuhan ayam yang cepat, produksi telur yang tinggi dan kematian ayam yang rendah. Tentu ini menjadi harapan kita semua. Namun, dalam mencapai hal tersebut seringkali kita dihadapkan dengan suatu tantangan, baik berat atau ringan. Salah satunya ialah adanya serangan suatu penyakit, baik viral, bakterial, protozoa, jamur dan lainnya.

Kita pun akan segera melakukan penanganan untuk membantu ayam mengatasi serangan tersebut, baik melalui vaksinasi, desinfeksi maupun medikasi. Setelah semua daya dilakukan, keberhasilanlah yang kita harapkan, namun kadang, kegagalanlah yang kita tuai. Evaluasi terhadap kegagalan itu hendaklah kita lakukan agar diperiode selanjutnya tidak terulang kembali. Berikut seputar hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan kerja obat.

Mengenal Petunjuk Pemakaian Obat
Setiap produk farmasetik atau obat selalu dilengkapi dengan petunjuk pemakaian obat, baik berupa etiket atau leaflet. Tujuannya tidak lain agar daya kerja obat dapat optimal dalam mengatasi infeksi penyakit. Informasi yang tercantum dalam etiket atau leaflet biasanya meliputi komposisi, indikasi, aturan pakai, perhatian, dan nomor registrasi.

Komposisi
Data komposisi yang dicantumkan meliputi jenis zat aktif yang terkandung dalam produk dan juga kadarnya. Dari sisi konsumen, informasi ini bermanfaat sebagai bahan pertimbangan pembelian produk misalnya untuk membandingkan dengan produk sejenis. Selain itu, membantu kita dalam melakukan rolling obat, dimana penggantian obat dengan jenis zat aktif yang sama atau satu golongan tidak diperkenankan.

Adanya informasi jenis zat aktif dan komposisi ini juga berfungsi sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan nomor registrasi. Inipun berperan sebagai kontrol bagi pemerintah dalam mengawasi kualitas obat hewan. Biasanya secara periodik, instansi pemerintah, dalam hal ini Balai Besar Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) melakukan inspeksi terhadap obat hewan yang telah teregistrasi (memiliki nomor registrasi).

Indikasi
Indikasi memberikan rekomendasi kepada kita (peternak, red) sebaiknya obat ini digunakan untuk mengatasi jenis penyakit tertentu. Contohnya pada etiket Amoxitin tersebut yang diindikasikan untuk mengatasi korisa, colibacillosis dan salmonellosis (avian paratyphoid, fowl typhoid, pullorum).

Hal ini tentu akan mempermudah kita dalam pemilihan obat yang sesuai. Meskipun demikian, seringkali etiket atau leaflet tidak mencantumkan semua jenis penyakit yang bisa ditangani oleh obat ini. Biasanya suatu zat aktif yang terkandung dalam suatu obat seringkali memiliki spektrum kerja yang luas, yaitu mampu mengatasi bakteri Gram (+) maupun Gram (-). Mengenai informasi lebih detailnya bisa ditanyakan kepada tenaga lapangan.

Adanya petunjuk tersebut menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu syarat utama yang menentukan keberhasilan pengobatan. Jika kita salah memilih obat, tentu saja penyakit yang menyerang ayam tidak akan sembuh. Ambil contoh pada ayam yang sedang terinfeksi CRD (ngorok) lalu diberi Ampicol untuk mengatasinya. Meski diberikan secara benar dan tepat, namun ayam tidak akan sembuh. Hal ini disebabkan Ampicol tidak diindikasikan untuk CRD, tetapi untuk colibacillosis, kolera dan infeksi sekunder bakteri pada kasus Gumboro. Menjadi pertanyaan lanjutan, mengapa Ampicol tidak mampu mengatasi CRD? Hal ini tidak lain karena zat aktif dalam Ampicol bekerja merusak membran sel bakteri, sedangkan Mycoplasma gallisepticum (penyebab CRD) tidak memiliki membran sel. Obat yang efektif untuk mengatasi CRD antara lain Proxan-C, Proxan-S, Therapy, Trimezyn ataupun Tyfural.

Aturan pakai
Pada bagian aturan pakai, biasanya dicantumkan informasi tentang dosis obat dan lama pemberian obat. Contoh redaksinya ialah 0,1 gram tiap kg berat badan atau 1 gram tiap 2 liter air minum, diberikan selama 3-5 hari berturut-turut. Redaksi ini bermakna untuk mendapatkan efek pengobatan yang optimal, yaitu ayam sembuh dari penyakit, hendaknya obat diberikan dengan dosis 0,1 gram tiap kg berat badan atau 1 gram obat dilarutkan dalam 2 liter air minum yang diberikan selama 3 sampai 5 hari.

Kenapa dosis pada etiket leaflet tersebut ada 2 pilihan, yaitu berdasarkan berat badan dan konsumsi air minum? Tidak perlu dibingungkan mengenai dosis ini karena pada prinsipnya keduanya sama. Awalnya penentuan dosis ini didasarkan pada dosis tiap berat badan dengan tujuan agar dosisnya lebih tepat. Sedangkan dosis berdasarkan air minum bertujuan untuk mempermudah dalam pengaplikasiannya. Dosis berdasar air minum ini merupakan hasil konversi dari dosis berat badan dengan ketentuan seekor ayam dengan berat badan sebesar 1 kg mengkonsumsi air minum sebanyak 200 ml dan ransum 100 gram. Jika contoh dosis pada aturan pakai tersebut dijabarkan menjadi :

Dosis air minum
= 1 gram tiap 2 liter air minum
Jika diubah menjadi dosis berat badan
= 1 gram tiap 2.000 ml air minum
= 1 gram tiap (2.000 : 200) ml air minum (ingat! 1 kg berat badan ayam mengkonsumsi 200 ml air minum)
= 1 gram tiap 10 kg berat badan
= 0,1 gram tiap kg berat badan

Sebuah trial yang telah dilakukan oleh bagian research and development (R&D) Medion menunjukkan pemberian obat berdasarkan dosis berat badan maupun air minum memberikan efek pengobatan yang optimal. Pemberian obatnya dilakukan 2 kali sehari, yaitu pukul 06:00 - 12:00 WIB dilanjutkan 12:00 - 18:00 WIB dan setelahnya diberi air minum biasa (tanpa obat). Hasilnya ditunjukkan pada Grafik 1 dimana pada hari ke-5 pengobatan ayam sembuh dari sakit.

Hal yang perlu diingat jika kita menggunakan dosis berdasarkan air minum ialah jumlah air minum yang digunakan untuk menghitung kebutuhan obat merupakan konsumsi air minum ayam selama 24 jam, bukan konsumsi air minum saat pemberian obat (pukul 06:00 - 18:00). Hal ini terkait dengan angka konversi dosis dari dosis berat badan ke air minum ialah 1 kg berat badan ayam mengkonsumsi 200 ml air minum. Air minum sebanyak 200 ml ini merupakan kebutuhan ayam dalam satu hari penuh.

Saat ayam sakit, konsumsi air minum cenderung berkurang sehingga kita harus lebih berhati-hati saat menghitung kebutuhan obat. Dan jika peternakan kita berada di daerah yang dingin dimana tingkat konsumsi air minumnya lebih rendah, tentu akan berpengaruh terhadap jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh ayam. Oleh karenanya dosis obat perlu dihitung lebih seksama.

Begitu pentingkah ketepatan dosis pemberian obat ini? Tentu, sangat penting. Obat akan menghasilkan efek pengobatan yang optimal saat konsentrasi atau kadarnya di dalam tubuh ayam mencapai kadar minimum atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Sebelum obat mencapai kadar MIC, obat tidak akan bekerja menghasilkan efek pengobatan.

Oleh karena itu pemberian obat yang tidak tepat dosis akan mengakibatkan daya kerja obat membasmi bibit penyakit yang telah menginfeksi ke dalam tubuh ayam menjadi kurang optimal atau malah tidak mempan sama sekali. Tentu hal ini menjadikan pemberian obat yang kita lakukan ialah sebuah kesia-siaan. Dosis yang kurang ini juga bisa memicu terjadinya resistensi obat, dimana bibit penyakit telah mempunyai mekanisme pertahanan untuk melawan obat sehingga perlu diganti dengan obat golongan lainnya.

Penentuan dosis obat ini didasarkan pada hasil uji farmakokinetik, yaitu suatu uji yang dilakukan untuk mengetahui “nasib” obat saat berada di dalam tubuh ayam. Dengan dosis yang tepat dan didukung dengan rute pemberian yang sesuai obat dapat mencapai organ target dalam jumlah yang cukup melalui rute pengobatan tertentu.

Informasi kedua yang bisa kita ketahui dari aturan pakai ialah rute pemberian obat. Secara umum obat dapat diberikan pada ayam melalui 3 rute, yaitu oral (melalui saluran pencernaan), parenteral (suntikan) atau topikal (dioles). Penjelasan detail mengenai perbedaan rute pemberian obat ini tercantum pada Tabel 1.


Pemilihan rute pengobatan menjadi hal yang penting untuk memastikan obat dapat mencapai organ atau lokasi kerja yang diinginkan sehingga obat bisa berkerja secara tepat dan optimal. Pemilihan rute pemberian obat ini disesuaikan dengan jenis obat yang digunakan, jenis penyakit yang diobati, jumlah ayam, tingkat keparahan penyakit maupun lama waktu obat itu diberikan.

Data technical service (TS) Medion (2006) menunjukkan rute pemberian obat pada ayam paling banyak dilakukan melalui air minum, yaitu sebesar 95% dan selebihnya diberikan secara suntikan. Pengobatan secara topikal relatif jarang ditemukan.

Agar pemberian obat melalui air minum mampu memberikan efek pengobatan secara optimal, perlu sekiranya kita perhatikan beberapa hal berikut :
  • Air sadah dan adanya kandungan logam berat seperti besi, dapat mengurangi efektivitas Proxan-C, Proxan-S, Neo Meditril, Doxyvet
  • Sinar matahari langsung dapat mengurangi stabilitas obat di dalam larutan. Oleh karena itu larutan obat hendaknya dibuat segar dan diletakkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung
  • Derajat keasaman (pH) netral, tidak terlalu ekstrem (pH < 6 atau pH > 8). Sulfamix akan mengendap bila dilarutkan ke dalam air dengan pH terlalu rendah (pH < 5) dan Doxyvet dapat mengendap jika pH air > 8
  • Konsumsi air minum setiap ayam berbeda-beda sehingga jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh setiap ayam tidak sama. Hal ini dapat diminimalisasi dengan penyediaan tempat air minum yang sesuai dengan jumlah ayam
  • Pemberian obat melalui air minum hendaknya tidak dicampur dengan desinfektan. Pencampuran tersebut akan menurunkan bahkan merusak obat. Contohnya ialah Antisep, Neo Antisep atau klorin akan mengoksidasi obat sedangkan Medisep bisa mengendapkan Sulfamix
Lama waktu pemberian obat menjadi petunjuk ketiga yang tercantum pada aturan pakai. Sama halnya dengan dosis dan rute pemberian, lama waktu pemberian obat menjadi kunci pokok yang menentukan keberhasilan pengobatan, yaitu obat berada dalam waktu yang cukup.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kadar obat di dalam tubuh akan berkurang dalam jangka waktu tertentu. Kecepatan eliminasi obat dari dalam tubuh ini ditunjukkan melalui waktu paruh. Waktu paruh yang diberi simbol T1/2 merupakan waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi obat sebanyak 50% dari kadar semula. Obat dengan T1/2 pendek akan berada di dalam tubuh lebih singkat dibanding dengan yang mempunyai T1/2 panjang.

Pada aplikasinya, obat dengan T1/2 pendek perlu diberikan dengan interval waktu lebih pendek, misalnya diberikan 2-3 kali sehari untuk mempertahankan kadar efektif di dalam darah. Tetrasiklin dan penisilin merupakan antibiotik yang memiliki T1/2 pendek, sedangkan sulfadimethoxine dan sulfamonomethoxine memiliki T1/2 yang panjang.

Oleh karena itu, pemberian antibiotik melalui air minum sebaiknya tidak dilakukan dalam 1 x pemberian dalam waktu yang terlalu singkat (misalnya selama 2 jam), terlebih lagi untuk obat yang mempunyai T1/2 pendek. Alasannya kadar obat tersebut di dalam darah akan cepat turun setelah pemberian selama 2 jam dan gagal mencapai konsentrasi minimal (MIC) sehingga obat tidak bekerja optimal. Idealnya obat diberikan 24 jam atau minimal 8-12 jam dengan maksimal obat dikonsumsi habis selama 4-6 jam setelah obat dilarutkan. Contoh pola pemberian obat yang ideal yaitu 2 kali sehari, pelarutan obat ke-1 untuk dikonsumsi pagi-siang hari (misalnya pukul 06:00 - 12:00) dan pelarutan obat ke-2 untuk dikonsumsi siang - malam hari (misalnya 12:00 - 18:00) sedangkan pada malam - pagi diberi air minum biasa.

Selain pola pemberian tersebut, lama pengobatan hendaknya dilakukan sesuai dengan aturan pakai yang tercantum pada etiket atau leaflet. Jika pada aturan pakainya tertera diberikan selama 5 hari berturut-turut maka obat hendaknya diberikan dalam rentang waktu tersebut. Mengapa? Tujuannya tidak lain agar bibit penyakit yang terdapat dalam tubuh ayam dapat terbasmi dengan tuntas. Lho khan gejala klinisnya sudah tidak nampak lagi? Tetap harus dilanjutkan, gejala klinis yang mulai hilang bukan berarti bibit penyakitnya sudah hilang melainkan mungkin saja masih ada bibit penyakit dengan level aman (tidak mampu menimbulkan gejala klinis) yang jika pengobatan dihentikan bisa berkembang kembali dan menimbulkan gejala klinis. Kondisi inipun bisa memicu terjadinya resistensi bibit penyakit sehingga obat yang biasa kita berikan tidak ampuh lagi atau ayam sulit disembuhkan.

Perhatian

Pada bagian ini tercantum informasi mengenai waktu penghentian pemakaian obat sebelum ayam dipotong untuk dikonsumsi. Hal ini penting karena terkait dengan keamanan hasil ternak, baik daging maupun telur yang akan kita konsumsi. Jika pada bagian ini tertulis “Hentikan pemakaian obat 5 hari sebelum unggas dipotong untuk dikonsumsi” maka seharusnya pemberian obat kita hentikan 5 hari sebelum ayam pedaging dipanen. Dengan demikian diharapkan karkas ayam pedaging bebas dari residu antibiotik. Namun pada kenyataannya, kesadaran kita terhadap waktu henti obat masih relatif rendah. Oleh karenanya perlu sekiranya kita mulai untuk memperhatikan hal ini, terlebih lagi golongan obat yang digunakan pada ayam sebagian besar sama dengan obat yang digunakan manusia.
Rekomendasi penyimpanan obat juga tercantum pada bagian ini. Obat hendaknya disimpan di tempat yang kering dan tertutup rapat serta terhindar dari sinar matahari langsung. Hal ini perlu menjadi perhatian kita, karena jika tidak obat yang kita simpan akan rusak atau menurun potensinya. Kerusakan obat ini bisa ditandai dengan perubahan warna atau adanya gumpalan.

Dalam penyimpanan obat hendaknya kita terapkan sistem first in first out (FIFO), yaitu obat dengan masa expired date terdekat yang lebih dahulu kita gunakan. Disinilah pentingnya kita selalu mengontrol expired date pada saat obat kita terima. Jangan sampai kita memakai obat yang telah melewati masa expired date karena kemungkinan potensinya sudah menurun.

Nomor registrasi
Nomor registrasi ini menandakan obat telah memenuhi standar dari pemerintah, atau dengan kata lain obat ini telah teruji dan terbukti kualitasnya. Setiap tahapan produksi dilakukan dengan sistem yang terkontrol dan terstandarisasi, mulai dari penyediaan bahan baku sampai produk jadi (termasuk cara pengiriman kepada konsumen). Kontrol kualitas juga dilakukan secara ketat, dengan alat yang modern dan tenaga kerja yang profesional. Dengan demikian diharapkan obat yang dihasilkan memiliki kualitas sesuai standar nasional (Farmakope Obat Hewan Indonesia) maupun internasional (standar Eropa maupun Amerika).


Optimalkan Daya Kerja Obat
Penjelasan tentang petunjuk pemberian obat secara jelas telah tercantum pada etiket atau leaflet produk. Aplikasi obat sesuai petunjuk ini akan memenuhi 4 prinsip pengobatan yaitu obat sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang, obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit, obat tersedia dalam kadar yang cukup dan obat berada dalam waktu yang cukup sehingga efek pengobatan optimal.

Selain itu, dalam aplikasinya kita perlu memperhatikan hal-hal berikut :
  • Ketepatan diagnosa penyakit. Ini merupakan kunci awal keberhasilan pengobatan. Saat diagnosa tidak tepat, pemberian obat dengan kualitas terbaik dan harga yang mahal tidak akan mampu mengatasi penyakit.
  • Hindari kombinasi obat yang bersifat antagonis. Amannya, kita menggunakan produk jadi yang telah diformulasikan secara khusus dengan kandungan antibiotik tunggal maupun kombinasi sehingga potensinya telah terukur dan terbukti. Jangan sampai kombinasi obat ini malah menurunkan potensi atau bahkan menyebabkan keracunan pada ayam kita.
  • Lakukan rolling antibiotik secara rutin. Hendaknya obat yang diberikan tidak monoton atau secara terus menerus karena bisa menimbulkan resistensi. Sebaiknya dilakukan rolling obat, misalnya setiap 3-4 periode pemeliharaan atau periode pemberian.
  • Dukung dengan aplikasi tata laksana pemeliharaan yang baik dan biosecurity yang ketat. Pengobatan setepat apapun tidak akan memberikan efek yang optimal jika tidak didukung kedua hal ini. Aplikasi keduanya akan menurunkan tantangan bibit penyakit di lingkungan dan juga meningkatkan kenyamanan ayam
Kedisiplinan kita dalam mengaplikasikan pemberian obat sesuai aturan pakai sangat diperlukan agar efek pengobatan menjadi lebih optimal dan ayam sembuh dari penyakit.
(sumber: info.medion.co.id)

Rabu, 19 Desember 2012

Memelihara ayam broiler dalam kandang bertingkat dua

Memelihara ayam broiler dalam kandang bertingkat dua
Kandang ayam broiler dengan sistem bertingkat, perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini agar produktivitasnya tetap optimal dan terhindar dari stres :

Ketinggian kandang bertingkat
Ketinggian tiap-tiap kandang minimal 2 meter agar sirkulasi udara tetap optimal dan mempermudah pelaksanaan aktivitas kandang, seperti pemberian ransum, air minum dan membersihkan kandang.

Lebar kandang
Lebar kandang tidak lebih dari 7 meter untuk mengoptimalkan sistem siskulasi udara. Kandang dengan lebar lebih dari 7 meter menyebabkan sirkulasi udara di bagian tengah kandang tidak optimal. Hal ini menyebabkan ammonia, debu dan gas beracun lainnya tidak bisa dikeluarkan dengan baik.

Lantai kandang
Berbeda dengan kandang panggung dimana lantai sebaiknya diberi celah sedikit agar kotoran bisa jatuh ke bawah. Pada kandang bertingkat, lantai kedua justru harus tertutup sempurna dan kokoh. Tujuannya agar feses atau kotoran ayam dari kandang di atas (lantai dua) tidak jatuh ke bawah. Lantai yang kokoh juga meminimalkan suara dari bagian atas kandang.

Tambahkan blower atau kipas angin
Adanya blower akan membantu sirkulasi udara, terutama pada kandang bagian bawah yang seringkali mengalami gangguan sirkulasi udara. Dalam pemasangannya blower harus memperhatikan arah aliran angin (arah angin jangan bolak-balik / tidak teratur), populasi ayam, kecepatan angin dan volume ruangan kandang.

Dengan kontruksi kandang yang baik, seperti yang disebutkan sebelumnya maka aktivitas personal di kandang lantai bawah tidak akan mempengaruhi ayam di lantai 2 ataupun sebaliknya. 
(sumber: infomedion.co.id)

Mengatasi menurunnya performa ayam pada kandang bertingkat

Mengatasi menurunnya performa ayam pada kandang bertingkat
Memelihara ayam dengan sistem dua lantai (bertingkat, red) memang membutuhkan perhatian khusus dan kadang kala performa ayam dilantai bawah bisa lebih bagus dari ayam dilantai atas atau malah sebaliknya. Rendahnya performa ayam di lantai 2 kemungkinan disebabkan ayam mengalami stres, terutama stres panas (heat stress) di siang hari. Konstruksi kandang yang dibuat panggung dan dibuat bertingkat memang memiliki sisi kelemahan. Ayam di lantai atas saat siang hari cenderung lebih stres karena lebih terpapar panas sinar matahari langsung. Apalagi jika atap kandang menggunakan bahan yang mudah menyerap panas.

Untuk mengatasinya, maka perhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Tambahkan blower atau kipas angin di dalam kandang untuk membantu sirkulasi udara. Dalam pemasangannya, blower harus memperhatikan arah aliran angin (arah angin jangan bolak-balik/tidak teratur), populasi ayam, kecepatan angin dan volume ruangan kandang. Jika perlu buat sistem hujan buatan di atap kandang.
  2. Gunakan atap kandang yang tidak menyerap panas matahari, contohnya rumbia, genting atau asbes. Jika perlu, pada bagian bawah atap dilapisi dengan bahan-bahan seperti bambu atau kayu yang berfungsi menekan temperatur panas, terutama ketika musim kemarau atau untuk peternakan yang berada di daerah dataran rendah. Bentuk atap juga bisa dibuat ganda dengan lubang angin yang disebut dengan atap sistem monitor. Tujuannya agar pertukaran udara di dalam kandang lebih terjaga.
  3. Atur kepadatan populasi ayam di kandang atas.
  4. Perhatikan ketinggian kandang lantai atas. Ketinggian tiap-tiap kandang pada kandang bertingkat minimal 2 meter agar sirkulasi udara tetap optimal dan mempermudah pelaksanaan aktivitas kandang, seperti pemberian ransum, air minum dan membersihkan kandang.
    (sumber: infomedion.co.id)

Senin, 17 Desember 2012

Obat herbal untuk mengatasi penyakit ayam

Obat herbal untuk mengatasi penyakit ayam
Dewasa ini perkembangan penggunaan herbal tradisional untuk keperluaan penyembuhan penyakit, sudah begitu familiar. Terutama untuk proses penyembuhan penyakit manusia, sebab begitu beragam penyakit modern yang tidak bisa di atasi, dengan penangganan keilmuan kedokteran.

Seandainya ingin di bahas seluruh herbal tradisional yang ada di bumi Indonesia, maka cakupan keilmuaannya akan terlalu melebar, sebab jumlahnya bisa ribuan jenis. Disini di batasi empat macam herbal tradisional, sebenarnya masing-masing herbal tersebut mempunyai manfaat sendiri-sendiri. Yang jika di padukan satu dengan lainnya merupakan sinergi yang saling menguatkan fungsi penyembuhan.

Manfaat herbal tradisional untuk keperluan penyembuhan ayam/ unggas, saat ini mulai mengalami kemajuaan signifikan. Perguruan tinggi mulai berlomba melakukan penelitian, untuk di aplikasikan pada ayam, yang kadang hasilnya melampaui ekpetasi yang di harapkan, yang sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali. Itulah kehebatan herbal tradisional Indonesia, apalagi sebagian herbal Indonesia, namanya sudah mendunia.

Hanya sayangnya terkadang fungsi kegunaan, seringnya dipahami terlebih dahulu oleh peneliti dari manca Negara yang begitu antusias, begitu intens dengan di topang pendanaan berlimpah dan dukungan lembaga pemerintahan yang bertanggungjawab, demi kemajuaan pengetahuaan dunia. Untuk sementara, jangan berharap terlalu banyak dengan campur tangan pemerintahan Indonesia saat ini ya, nangis sendiri nanti.

DAUN SIRIH
Daun sirih ( Piper Betle )banyak mengandung Atsiri Oil, satu diantara komponen adalah Kavakrol bersifat Desinfektan dan anti jamur sehingga bisa untuk Antiseptik pada saluran pencernaan. Unsur Eugenol dan Metil-Eugenol berfungsi pengurangi rasa sakit. Sifat Anti Bakteri dapat mengurangi rasa gatal dan merah berair pada mata.

KUNIR/ KUNYIT
Kunyit ( Curcuma Domestica ) Curcumin senyawa utama pada kunyit yang berkhasiat untuk beragam penyakit,misalnya mengobati gangguan saluran pencernaan, antiradang, antibakteri, antikanker, penurun kadar kolesterol, membersihkan lemak pada saluran pembuluh darah.

TEMULAWAK
Temulawak ( Curcuma Xanthorrhiza ), mempunyai sifat Detoksifikasi/ mengeluarkan racun dan kontaminasi jamur Alfatoksis Flavus yang mengendap dalam hati.Belum lagi membantu sekresi dari kerja pangkreas, sehingga mampu mengoptimalkan metabolism pangkreas mengeluarkan Enzim Amilase, Lipase, Protease. Kehadiran enzim-enzim ini membantu meningkatkan penyerapan bahan pakan karbohidrat, protein dan lemak.

BROTOWALI
Rimpang brotowali (Tinospora Crispa) rasannya sangat pahit.Senyawa Pikroretin pembawa rasa pahit banyak mengandung alkaloid, saponin,dammar dan masih banyak lagi. Kalau cumapenyakit segala jenis cacing, pasti hancur digempur sama Pikroretin.

BAHAN HERBAL :
a.       Daun sirih            2 ons
b.      Kunyit                  2 ons
c.       Temulawak         2 ons
d.      Brotowali            2 ons
e.      Air bersih            5 liter

Semua bahan herbal di cuci bersih, masukkan panci tambah air bersih 5 liter, masak hingga air mendidih. Di butuhkan waktu sekitar 30 menit. Setelah dingin campur dengan jatah air minum ayam pada pagi hari saja, untuk ayam sejumlah 500 ekor. Satu resep herbal ini bisa di pakai sebanyak 3 kali pemasakan herbal/ tiga hari masa pakai pada pagi hari saja. Setelah 3 hari pakai, herbal di buang diganti yang baru.Artinya dalam satu minggu Cuma pakai campuran herbal 3 kali atau 3 hari saja. Aplikasi herbal dapat di barengkan dengan Egg Stimulant/ Strong Egg, tanpa mengurangi khasiat masing-masing. Yang saya terangkan di atas untuk dosis pencegahan penyakit. Untuk dosis pengobatan penyakit akan saya uraikan di bawah ini.

APLIKASI PENGOBATAN PENYAKIT

COCCIDIOSIS/ BERAK DARAH
Waktu yang di perlukan untuk menyembuhkan berak darah, sekitar 7 hari sembuh, tanpa ada kematian sama sekali jika pakai herbal. Jika tidak pakai herbal sembuh dalam 10 hari dengan tingkat kematian 10 – 15 %. Itu pengalaman empiris yang saya alami sendiri. Dosis pengobatan air minum 100 % air godokan herbal di kombinasikan dengan obat COCY atau ANTICOCY selama 7 hari.

SNOT/ CORIZA/ PILEK
Pilek hidung yang mengeluarkan air, yang lama kelamaan menggumpal menutupi lubang hidung sembuh dalam 3 hari. Kepala bengkak kemerahan, sembuh dalam 5 hari dengan tingkat kematian 0 %. Jika tidak pakai herbal, sembuh dalam 10 hari dengan tingkat kematian 15 %.Pemakaian herbal 100 % selama 5 hari di kombinasikan dengan obat kimia TRYMEZIN.

CRD (Chronis Respiratory Disease )/ NGOROK
CRD penyakit yang bersifat kronis, artinya gejala penyakit tidak terlihat secara frontal, tapi akan muncul secara berlahan-lahan. Maka peternak yang kurang teliti, sekali ke serang , ayam sudah dalam kondisi accut.  Sebenarnya untuk mendeteksi CRD sangat gampang sekali, masuk ke kandang ayam pada malam hari, dengarkan ada tidak suara ngorok, batuk, atau tercekik. Seandainya terdengar segera ambil tindakan, sebab penyakit ini penyebaran cepat sekali. Waktu yang di butuhkan untuk penyembuhan pakai herbal 7 hari sembuh.Air minum 100% herbal,kombinasi obat NEO MEDITRIL.

KOLERA/ BERAK HIJAU
Warna kotoran dari kuning normal menjadi coklat akhirnya berwarna hijau. Ujung-ujung jengger ke biruan dan pial bengkak merah kehitaman. Kondisi ayam lemas tidak nafsu makan akhirnya mati. Penyembuhan penyakit ini perlu waktu 7 – 8 hari, tingkat kematian 5% sebab penyakit ini bisa bersifat kronis hingga accut/ ganas. Herbal tetap pakai 100% dan obat KOLERIDIN.

CACING ASCARIS
Penyakit ini tidak menimbulkan kematian, hanya tampilan performans ayam menjadi tidak menarik, bulu kering berdiri, muka pucat, berhenti bertelur, mencret encer. Ayam sudah berproduksi jangan sekali-kali di beri obat cacing kimiawi, efeknya produksi telur langsung droup. Dengan herbal 100%, ayam sembuh dalam 3 hari, cacing ikut keluar bersama keluarnya kotoran.

DIPTHERI/ CACAR
Penyakit ini ada 2 macam jenis, cacar luar dan cacar dalam. Cacar luar bermula dari luka pada kulit yang tidak di tumbuhi bulu, bintik merah berubah kuning menjadi hitam membesar. Cacar hitam kering di kelupas diolesi godokan herbal, cacar luar 3 hari sembuh. Cacar dalam menyerang selaput lendir lidah, mulut dan tenggorokan. Selaput lendir berwarna kuning di dalam rongga mulut, bila di biarkan semakin membesar dan menyumpal rongga mulut sehingga sulit bernapas. Gunakan air minum herbal 100% dalam 7 hari cacar dalam sembuh.

NCD/ TETELO, IB (INFEKSIUS BRONCHITIS), ASPERGILLOSIS, GUMBORO, EDS, ILT
Semua nama penyakit di atas,yang menurut ahli peternakan sekarang ini belum bisa di sembuhkan, hanya bisa pencegahan lewat vaksin. Dapat di atasi dengan ramuan herbal di atas, memang memerlukan waktu agak lama 15 hari tapi ayam sembuh. Prosesnya gimana saya juga tidak tahu, tapi ayam sembuh. Selama 15 hari nonstop air minum herbal 100%, kombinasi obat kimia DOCTRIL/ NEO MEDITRIL. Yang terpenting di sini, jangan mengobati, usahakan tindakan pencegahan saja.

Kelima penyakit diatas kecuali Aspergillosis, merupakan penyakit penurun produksi telur. Penanganan pencegahan sedini mungkin lebih di utamakan.Penggunaan herbal mulai dari DOC hingga Afkir  tidak menimbulkan efek samping sama sekali.
(sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Minggu, 16 Desember 2012

Cara mempersingkat masa mengeram ayam petelur

Cara mempersingkat masa mengeram ayam petelur
Banyak peternak yang kadang pusing saat mendapati ayamnya pada jatuh, duduk mengeram , Cuma diam dan tidak produksi. Bingung, yang pinginnya segera mengeluarkan ayam dari kandang, tapi hati-hati saja jangan terlalu cepat ambil tindakan Culling. Sifat mengeram memang mempengaruhi produktivitas, tapi ayam akan segera berproduksi kembali.

Di bawah pengaruh hormone Prolaxtin dari Pituitari Anterior, ayam menghabiskan begitu banyak waktu duduk di atas kandang. Saat mengeram  ayam mengkerutkan bulunya, mematuk siapa saja yang mendekat dan merupakan sifat turunan yang berasal dari Genetika Cromosom ayam kampong local Indonesia. Tapi sifat ini bisa di perbaiki lewat proses “ Pemendaman Genetik “.  Kulit ayam tidak memiliki kelenjar kecuali pada Uropigial ( kelenjar minyak )yang digunakan ( saat masa mengeram selesai ) Sekresikan minyak oleh ayam untuk membalut bulu dengan suatu lapisan pelindung melalui cara yang di sebut Preening.

Cara sederhana untuk mempersingkat masa mengeram adalah dengan memandikan selama 5 – 10 menit dalam air es. Perendaman ini berguna untuk menurunkan suhu tubuh, sehingga hormone LTH yang memacu naluri mengeram bisa di kurangi aktivitasnya. Setelah di mandikan ayam di masukkan dalam kandang khusus dengan posisi di gantung, sehingga membuat ayam tidak nyaman karena kandang selalu bergoyang. Tempat untuk menggantung ayam di usahakan yang mana sinar matahari bisa masuk, ayam tidak suka pada tempat yang terang. Ini adalah solusi yang sifatnya sementara, untuk yang lebih permanen, wajib di mulai dari seleksi Genetik ayam yang memperlukan waktu lumayan lama. Mungkin 3 – 4 generasi kemudian baru mendapatkan Genetik Hybreed.
(sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Mencampur pakan untuk ternak ayam juga ada tehniknya

Mencampur pakan untuk ternak ayam juga ada tehniknya
Terkadang proses pencampuran ransum pakan ayam bagi peternak sesuatu hal yang sepele, sehingga di kerjakannya dengan asal campur. Setelah di aduk-aduk selesai. Gara-gara hal sepele tersebut bisa-bisa ke unggulan genetic , keunggulan produktivitas yang di miliki ayam bisa tidak akan muncul. Kenapa bisa? Ransum ayam yang biasanya terdiri dari jagung manifestasi dari karbohidrat / Energi Metabolisme, katul/ bekatul mewakili dari setengah karbohidrat dan sekumpulan multi vitamin B Kompleks, sedang konsentrat pengejawantahan dari kumpulan protein, di tambah Mineral Calsium, phosphor dan lain-lain.

Pencampuran yang tidak merata homogeny, mengakibatkan tidak setiap ayam mendapatkan asupan pakan yang komplit. Antara protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral harus saling ber- sinergi. Andai saja pencampuran ransum pakan tidak bisa homogeny, bagaimana mungkin di antara unsure-unsur pakan tersebut akan bisa menumbuhkan keunggulan genetic dan produktivitas ayam?

Jangan sia-saikan sejumlah uang yang kita keluarkan, untuk mengadakan ransum pakan menjadi percuma, hanya karena aplikasi pencampuran yang kurang tepat. Harap di ingat, biaya ransum pakan menyedot anggaran terbesar yang di keluarkan, hampir 70- 75 %. Sayang jika terbuang muspro.


Baiklah, segera saja saya paparkan langkah tahap per tahap di bawah ini :
  1. Hamparkan katul/ bekatul di lantai yang sudah di bersihkan dari kotoran debu, kaca, krikil, plastic ataupun potongan kertas. Harus benar-benar bersih. Jika ada katul/ bekatul yang menggumpal harus di lembutkan lagi.
  2. Lalu hamparkan jagung/ katul jagung, pilih salah satu, di atas hamparan katul/ bekatul. Merata, menutupi semua katul/ bekatul.
  3. Kemudian hamparkan Konsentrat di atas hamparan jagung/ katul jagung merata menutupi, hamparan jagung/ katuljagung.
  4. Mineral, bisa pakai mineral Medion/ mineral B12 dari PT Eka/ mineral hijau/ atau kombinasi di antara ke tiganya ( ini bukan promosi )
  5. Bagi hamparan pakan tadi menjadi empat bagian sama rata. Lantas mulai di aduk-aduk dimulai dari paling ujung.
  6. Setelah adukan sudah dirasa rata, lalu di pindahkan ke sisi lain. Mulai lagi mengaduk tiga bagian yang masih tersisa satu persatu. Adukan yang sudah merata di pindahke sisi lain diatas adukan yang pertama tadi, begitu terus hingga empat bagian pakan tadi terpindahkan semua ke sisi lain,yang seharusnya sudah mengunung ke atas.
  7. Pindahan adukan pakan yang sekarang berbentuk menyerupai gunung, mulai dipindahkan lagi ke sisi semula/awal. Pengambilan adukan pakan yang mengunung tadi , dimulai dari tengah, sehingga sisi kiri dan kanan pakan yang menggunung melorot saling tindih antara sisi kanan dan kiri. Terus saja pindahkan dan pindahan pakan inipun di buat menggunung lagi, hingga gunungan pakan ke satu, pindah ke gunungan pakan kedua.
  8. Proses pengadukan ransum pakan sudah selesai, tinggal memasukan ke dalam karung. Proses pemasukkan dalam karung, juga di mulai dari bagian tengah gunungan, dengan maksud karena sisi kanan dan kiri gunungan melorot saling tumpang tindih, secara otomatis kan sudah mencampur sendiri. Sehingga campuran makin Homogen. Untuk tambahan jangan mencampur pakan untuk stock, lebih dari tujuh hari masa pakai.Di kwatirkan akan terjadi oksidasi sehingga nilai gisi ransum tanpa di sadari berkurang/ menurun. (sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Jumat, 14 Desember 2012

Penyakit keluarnya saluran telur dari dalam kloaka

Penyakit keluarnya saluran telur dari dalam kloaka

Penyakit Prolapsus Oviduct (Uteri) ditandai dengan keluarnya saluran telur dari dalam kloaka (benda seperti usus sebesar batang rokok dengan panjang kira-kira 4 cm). Prolapsus sering terjadi pada ayam yang sedang bertelur. Kelainan ini terjadi pada saat masa bertelur dan tidak dapat pulih dengan sendirinya.

Faktor penyebab timbulnya prolapsus uteri antara lain :

  1. Faktor keturunan
  2. Perlemahan/kerusakan otot di daerah kloaka karena umur ayam (ayam tua), radang pada saluran telur dan anus
  3. Intensitas pencahayaan yang terlalu tinggi maupun perubahan program pencahayaan yang dilakukan secara mendadak

Kasus prolapsus uteri ini dapat dicegah dengan cara :
  1. Mempertahankan berat badan ayam tetap ideal (sesuai standar). Ayam petelur yang mengalami hambatan pertumbuhan saat masa starter atau grower akan memiliki kerangka tubuh dengan ukuran yang lebih kecil (di bawah normal). Akibatnya, saat masa layer ayam tersebut cenderung lebih mudah terkena prolapsus. Ayam dengan ukuran berat badan terlalu besar juga dapat memicu prolapsus. Ayam ini akan memiliki timbunan lemak yang berlebih di perutnya sehingga dapat menggangu elastisitas saluran telur, yaitu saat mengeluarkan telur saluran telur tidak dapat masuk kembali karena tertahan oleh lemak tubuh.
  2. Atur program pencahayaan sesuai kebutuhan. Jangan memberikan pencahayaan dengan lama waktu dan intensitas yang berlebih. Pencahayaan untuk masa layer sebaiknya diberikan selama 16 jam, yaitu 12 jam dari sinar matahari dan 4 jam dari cahaya lampu dengan intensitas 20-40 lux
  3. Berikan ransum dengan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam, terutama kebutuhan mineral
  4. Perhatikan kepadatan kandang. Kandang yang padat akan menyebabkan ayam stres dan meningkatkan aktivitas mematuknya
  5. Pertahankan suhu kandang tetap nyaman, yaitu 25-28oC. (sumber: info.medion.co.id).

Berbagai macam gangguan pada organ reproduksi ayam petelur

Berbagai macam gangguan pada organ reproduksi ayam - Organ reproduksi merupakan rangkaian dari salah satu kompleksitas system metabolism ayam yang begitu urgent. Saling sinergi, berkait antara satu dan lainnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, satu mengensampingkan yang lain. Tapi system organ reproduksi  yang terpenting, ini berhubungan dengan proses produksi pembentukan telur terjadi di sini. Kesempurnaan dari organ reproduksi menjamin, produksi telur yang optimal, kontiyu berkesinambungan, dan menghasilkan profit secara maksimal. Jika terjadi sedikit saja gangguan, produksi telur pasti drop.

Beberapa gangguan sudah bisa di pediksi sebelumnya, seperti penyakit NCD ( New Castle Disease ), EDS ( Egg Drop Syndrome ), IB ( Infectious Bronchitis ), AI (Avian Influenza ) dan satu lagi penyakit CRD (Chronis Respiratory Disease ). Ke lima macam penyakit ini nanti saya bahas pada topic tersendiri agar lebih leluasa. Rencananya dengan judul “ 5 Penyakit Penurun Produktivitas telur Ayam “ Tetapi kebanyakan belum di ketahui sebab-sebab spesifiknya seperti PROLAPSE, SALPINGITIS, Peneluran dalam tubuh, OVIDUCT, pecah, Telur tidak dapat keluar dari OVIDUCT, Kuning telur pecah, HINDROP ASCITES. Biasanya gangguan tersebut yang sering muncul, baiklah kita bahas satu persatu.

PROLAPSE :

Prolapse adalah keadaan dimana ujung saluran Oviduct  ikut keluar dari cloaka saat proses peneluran. Dan setelah telur keluar,  ujung Oviduct  tersebut tidak bisa kembali masuk ke cloaka.Sehingga memancing timbulnya sifat Kanibalisme, saling mematuk yang berakibat pada kematian.Kejadian Prolapse kebanyakan pada masa ayam Layer belajar bertelur.

Sebab-sebab Prolapse belum diketahui secara pasti. Beberapa pendapat mengatakan di sebabkan tidak seimbangnya hormone tertentu, adanya infeksi cacing, ayam bertelur terlalu muda, ukuran telur terlampau besar, dan lainnya. Ayam penderita Prolapse harus di keluarkan dari kandang, kalau ujung Oviduct  sudah membengkak, luka dan kotor maka ayam harus di afkir. Jika belum bengkak dan tidak terluka maka masih bisa kita usahakan untuk di sembuhkan. Sediakan minyak goreng, ambil ayam pegang , dengan cara di kempit di antara kaki kita dengan kepala ayam menghadap ke belakang. Oleskan minyak goreng pada Oviduct yang keluar, lalu jari telunjuk di olesi minyak. Dengan berlahan dorong ujung Oviduct masuk cloaka, setelah masuk, tahan dengan jari telunjuk kurang lebih 10 menit, hingga ujung Oviduct agak kaku dan tidak keluar lagi. Biasanya ayam akan sembuh, jika pada peneluran esok paginya, ujung Oviduct keluar lagi, tak ada jalan lain : AFKIR.

SALPINGITIS :

Salpingitis adalah infeksi bakteri pada Oviduct yang jadi membesar, dan penuh berisi perkejuan ( gumpalan-gumpalan putih kekuningan ) . Infeksi ini berhubungan dengan penyakit CRD kompleks/ COLIBACILLOSIS.  Salpingitis muncul berhubungan dengan keteledoran peternak soal manajemen Bio Security yang kurang optimal. Gampangnya sanitasi kesehatan dalam lokasi kandang amburadul.

HINDROP ASCITES :

Kejadian dimana bagian rongga abdomen/ perut membesar hingga bisa menyentuh lantai saking besarnya. Berwarna merah, bila di sentuh terasa keras dan panas. Jka dilakukan bedah bangkai terdapat Oedema yang berisi cairan dari rongga abdomen karena proses HIPOPROTEINNEMIA ( Rendahnya kandungan protein plasma menyebabkan merembesnya cairan dari pembuluh darah ). Ayam yang terserang Hindrop Ascites tidak menampakkan seperti ayam sakit, sebab nafsu makan dan minum ayam ini masih normal. Bisa juga karena proses HIPOKSIA ( Penurunan kandungan oksigen dalam udara karena pada dataran tinggi atau juga karena kandang dengan ventilasi yang jelek, kandang dengan kepadatan tinggi, debu, amoniak dan kelembaban tinggi. Penyebab utama adalah AMONIAK.

PENELURAN DALAM TUBUH :

Kondisi ini terjadi kalau sebutir telur yang masih berada dalam oviduct, dipaksa keluar dari bagian atas oviduct dan masuk dalam rongga, berkembang menjadi tumor. Ayam di afkir.

OVIDUCT PECAH :

Kejadian yang sangat jarang terjadi, bisa di lihat jika hanya oviduct di bedah. Disebabkan , adanya perintang di saluran oviduct. Kuning telur tidak dapat mencapai uterus, jatuh pada rongga abdomen, akhirnya menjadi tumor. Ayam di afkir.
               
KUNING TELUR PECAH :

Kuning telur pecah di dalam ovaria, sehingga melumuri bagian ovaria yang berakibat pada kematian. Kejadian banyak pada ayam petelur yang berproduksi begitu tinggi/ atau saat pindah kandang.

TELUR TIDAK DAPAT KELUR DARI OVIDUCT :

Telur menyumbat saluran reproduksi, menutup di bibir dalam cloaka. Ayam telah berusaha keras tapi telur tak bergerak sama sekali. Bahkan memutar telur di dalam saja sama sekali tidak bisa, sampai bulu ayam berdiri semua dan posisi ayam seperti jongkok, wajahnya kelihatan “ ngeden “

Ayam harus segera di ambil tindakan, telat sehari saja, ayam di jamin mati. Ambil ayam , jepit dengan dua kaki kita, kepala hadap belakang. Ambil minyak goreng, olesi bibir luar cloaka dan telur yang sedikit sudah kelihatan. Setelah terolesi dorong pelan, telur sedikit ke dalam, kemudian putar telur dan olesi minyak goreng lagi, putar-putar telur sambil terus di olesi minyak. Saat terasa sudah agak kendur, raba perut ayam usahakan jari-jari tangan berada bi belakang posisi telur. Berlahan sekali tekan jari-jari keluar sampai telur sedikit-sedikit keluar, sambil terus di olesi minyak hingga keluar.
(sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Kamis, 13 Desember 2012

Penyakit mencret atau diare pada ayam


Ayam yang mengalami mencret atau diare tidak hanya disebabkan adanya infeksi kuman penyakit (faktor infeksius) tetapi bisa diakibatkan faktor non infeksius, seperti tata laksana pemeliharaan yang kurang baik. Oleh karena itu sebelum melakukan pengobatan alangkah lebih baiknya dilakukan diagnosa penyakit untuk mencari agen atau faktor penyebab serangan penyakit tersebut. Agen atau faktor yang dapat menyebabkan diare tercantum pada tabel 1.
Penyakit mencret atau diare pada ayam


Penanganan kasus diare hendaknya diawali dengan melakukan diagnosa penyakit secara tepat sehingga treatment yang akan dilakukan sesuai dengan kasus yang dihadapi. Penanganan kasus diare yang disebabkan faktor infeksius, yaitu serangan bakteri (CRD, kolera, salmonellosis atau colibacillosis) bisa dilakukan dengan pemberian obat (antibiotik), koksidia (kokdiosis) diberikan antikoksidia atau cacing diberikan anthelmintika. Khusus untuk serangan virus (ND dan Gumboro) pemberian obat hanya membantu menekan infeksi sekunder oleh bakteri. Sedangkan untuk ND dan Gumboro tidak bisa diatasi dengan pemberian obat tetapi dikendalikan melalui vaksinasi. Saat ayam terserang ND, bisa dilakukan revaksinasi dengan menggunakan Medivac ND Clone 45. Keberhasilan revaksinasi darurat ND tersebut dipengaruhi oleh tingkat keparahan serangan ND.

Penanganan kasus non infeksius disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Misalnya saja kasus heat stress maka penanganannya dengan memperbaiki sistem ventilasi udaranya. Setelah faktor penyebabnya diatasi maka pemberian vitamin dan elektrolit diperlukan untuk menjaga stamina dan mempercepat pemulihan (sumber: info.medion.co.id).

Beberapa hal yang bisa mempengaruhi fertilisasi ayam petelur

Beberapa hal yang bisa mempengaruhi fertilisasi ayam petelur

Beberapa hal yang bisa mempengaruhi fertilisasi (Pembuahan) ayam petelur
  1. SPERMA : Sperma normal gerakannya lincah dan sanggup membuahi dengan fertilitas yang tinggi. Sperma yang tidak normal, bentuk dan gerakan tidak singkron, biasanya daya fertilitasnya rendah dan tidak dapat menurunkan genetic yang bagus.
  2. RANSUM PAKAN : Ransum kurang baik kwalitasnya akan mempengaruhi mutu sperma. Diperlukan asupan Vitamin E dalam jumlah besar untuk menjaga kualitas sperma.
  3. HORMON : Kelenjar-kelenjar penghasil hormone Endokrin, sangat mempertinggi fertilitas telur. Jika kelenjar Pituitury ( kelenjar home produk) tidak bisa di produksi semaksimal mungkin, akan menurunkan fertilitas. Seekor jago pejantan seandainya di suntikan hormone,akan mempertinggi fertilitas.
  4. RESPON CAHAYA : 12 jam waktu yang di butuhkan seekor pejantan untuk mendapatkan cahaya terang/ paparan sinar matahari, agar menghasilkan sperma yang bagus. Induk Betina untuk pembentukan sebutir telur memperlukan cahaya terang/ sinar matahari selama 16 jam.
  5. UMUR : Umur ideal untuk terjadinya perkawinan pejantan dan betina agar fertilitasnya bagus kisaran umur lebih dari 10 bulan.Pada periode tahun pertamalah biasanya waktu terbaik untuk terjadinya perkawinan.
  6. DAYA BERTELUR : Induk betina yang produksi telurnya tinggi akan menghasilkan telur tetas yang fertilitasnya lebih tinggi, jika dibandingkan dengan induk betina yang produksi telurnya rendah. Berdasarkan hal ini maka pemuliabiakan untuk mempertinggi telur sekaligus berarti juga mempertinggi fertilitas telur. (sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Rabu, 12 Desember 2012

Yang harus diperhatikan saat menyimpan telur tetas

Yang harus diperhatikan saat menyimpan telur tetas

Yang harus diperhatikan saat menyimpan telur tetas


Telur dengan bentuk ,berat dan kulit telur yang baik, belum tentu pasti menghasilkan daya tetas yang pasti bagus. Ada kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi baikburuk daya tetas telur. Oleh karenanya harus di perhatikan beberapa kaidah di bawah ini.
  1. Telur tetas yang disimpan pada temperature sangat panas atau sangat dingin, mengakibatkan kerusakan embrio telur. Suhu ideal menyimpan telur 15Celsius atau 60-75F.
  2. Posisi peletakan telur adalah ujung runcing di bawah, ujung tumpul diatas. Jika letak telur kebalikkannya maka kantung udara dalam telur akan mendesak keatas, yang mengakibatkan stabilitas isi telur tidak ideal.
  3. Kelembapan dalam ruangan penyimpan telur tetas akan mencegah penguapan air dari dalam telur dan ini berarti mencegah membesarnya kantung udara dalam telur.
  4. Umur simpan telur 7 hari masih bisa di harapkan daya tetasnya, tapi umur telur terbaik untuk masuk mesin tetas adalah 4 – 5 hari, dengan daya tetas terbaik.
  5. Kulit telur yang terlalu kotor sebaiknya tidak usah ditetaskan, hasilnya tidak akan baik. Kotoran feces pada kulit telur menghambat respirasi perputaran udara segar dari dalam telur atau dari luar kedalam telur. Jika hal ini terjadi embrio kekurangan udara segar sehingga rentan mati.
    (sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Beberapa faktor yang mempengaruhi daya tetas ayam petelur

Beberapa faktor yang mempengaruhi daya tetas ayam petelur :

Beberapa faktor yang mempengaruhi daya tetas ayam petelur

  1. PEMULIABIAKAN KELUARGA : Perkawinan antar keluarga atau antar saudara atau antara anak dan induk atau perkawinan Inbreeding, tanpa seleksi yang ketat untuk daya tetas yang tinggi, terbukti sangat merugikan breeder/ penetas. Seorang penetas sejati harus memiliki gallur ayam murni dari standart stock, grand parent stock, parent stock dan final stock. Jika penetas tidak memiliki ayam murni diatas maka belum bisa disebut Bredeer. Hanya usaha untuk memperbanyak anakan/DOC dan pasti mutu DOC-nya masih perlu dipertannyakan.
  2. GEN LETHAL dan GEN SEMI LETHAL : Ada 14macam gen lethal yang mematikan atau dapatmematikan embrio didalam telur pada waktu penetasan telur. Gen yang langsung mematikan embrio di sebut gen Lethal, sedang yang mematikan secara tidak langsung disebut gen semilethal.Gen lethal ini bisa muncul saat perkawinan Inbreding terjadi.
  3. RANSUM PAKAN : Ransum pakan bibit indukan harus mengandung nutrisi-nutrisi yang di butuhkan meliputi : protein, karbohidrat, lemak, vitamin A, D3, E, K, B2, B12, asam panthotenant, mineral : kalsium, mangan(Mn), selenium(Se).
    (sumber: bumiternak-betha.blogspot.com)

Cara penanganan gumboro yang disertai disertai colibacilliosis

Ada opini yang menyebutkan bahwa pemberian air gula tidak dianjurkan saat ayam terkena penyakit gumboro yang disertai colibacilliosis karena akan memperparah colibacillosis. Apakah pengertian tersebut benar?. Belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa pemberian air gula dapat memperparah kasus colibacillosis. Kejadian colibacillosis yang dibarengi dengan Gumboro akan memperparah kondisi baik colibacillosis maupun Gumboronya sendiri. Hal ini dikarenakan Gumboro merupakan penyakit yang bersifat immunosupresant (menekan sistem kekebalan) sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh ayam menjadi lemah. Selain itu, adanya penurunan nafsu makan/minum menyebabkan ayam mengalami dehidrasi dan lemah. Dengan demikian colibacillosis akan berkembang dan menginfeksi dengan cepat sehingga kondisi ayam pun akan semakin drop. Dengan kondisi demikian, air gula sangat diperlukan sebagai sumber energi yang langsung dapat digunakan tubuh tanpa harus melewati proses metabolisme berbelit.

Penanganan kasus Gumboro yang disertai colibacillosis dapat dilakukan dengan cara sbb :

  • Ayam yang sudah parah sebaiknya dipisahkan agar tidak menjadi sumber penularan bagi ayam-ayam lain
  • Berikan air gula 2-5% (2-5 gram/ 100 ml air minum) selama 3 hari. Jika terjadi pembengkakan ginjal, dapat diberikan Gumbonal selama 3 hari. Terapi dilanjutkan dengan pemberian antibiotik seperti Ampicol atau Coliquin selama 3-5 hari beturut-turut. Air gula berperan dalam suplai energi sedangkan antibiotik berperan dalam mengatasi infeksi colibacillosis
  • Semprot kandang setiap hari dengan Antisep/Neo Antisep guna meminimalkan penyebaran bibit penyakit yang ada di lingkungan. Lakukan pula desinfeksi air minum namun jangan bersamaan dengan jadwal pengobatan
  • Setelah pengobatan colibacillosis selesai, berikan multivitamin seperti Vita Stress atau Fortevit untuk mempercepat proses pemulihan
  • Jika diperlukan, tambahkan pemanas terutama pada malam hari dan cuaca dingin
  • Pada kasus Gumboro, terkadang ditemukan perubahan patologi anatomi berupa pembengkakan ginjal. Jangan memberikan obat dari golongan sulfonamida (Trimezyn, Respiratrek, Sulfamix, Coxy atau Duoko) maupun aminoglikosida (Koleridin, Kanamin, Gentamin atau Vet Strep) karena dapat memperparah kondisi ginjal
  • Jangan lakukan vaksinasi darurat atau vaksinasi lain sebelum kasus Gumboro dapat ditangani
  • Pada pemeliharaan berikutnya, evaluasi kembali program vaksinasi Gumboro, kualitas DOC saat chick in, kualitas air serta manajemen saat kosong kandang dan saat brooding
(sumber: infomedion.co.id)

Minggu, 09 Desember 2012

Kualitas ayam petarung dilihat dari bantuk kakinya

Kualitas ayam petarung dilihat dari bantuk kakinya bangkok
Ayam tarung sebagai petarung sangat mengandalkan kakinya untuk menjatuhkan lawan, kekutan kaki sebagai prioritas utama untuk mencari ayam tarung yang bagus. Bentuk kakipun beraneka ragam ada yang bulat adapula berbentuk persegi (blimbing : Jawa red) dan ukurannya tentu juga tidak sama ada yang kecil dan besar. Untuk menentukan pilihan bentuk kaki yang bagaimana memang perlu pengalaman yang cukup untuk mengamati. Salah satu peternak besar di Bangkok Weeradaj Payoosiripong yang telah puluhan tahun mengembangkan ayam tarung menilai kaki yang kecil lebih cepat dan pukulanya sakit.

Memang dalam perkembangan bentuk kakipun mengalami beberapa trend atau perubahan seperti di Thailand, dulu menyukai ayam yang memiliki kaki blimbing dikenal memiliki pukulan yang berat, hal ini juga terjadi di Indonesia. Tapi Siripong terus mengamati setelah membandingkan dengan kaki ayam berbentuk bulat ternyata yang ukuranya (diameter) lebih kecil pukulanya lebih sakit. Mengingat pukulan yang berat belum tentu sakit, meskipun menerima pukulan bertubi-tubi terhnyata tidak mudah untuk menjatuhkan lawan, berbeda dengan kaki kecil ternyata pukulanya sangat dirasakan sehingga lebih cepat membuat lawan tak berdaya dan menyerah.


Siripong yang ditemui Sutejo dan Teraporn dari Media Ayam di peternakanya yang berada di kawasan Phutthamonthon Sai Pirade Bangkok menunjukkan kaki kecil yang dimaksud yaitu kaki ayam yang memiliki diameter lebih kecil dibanding dengan ayam lain yang postur tubuhnya sama, dan bentuknya bulat seperti rotan.  “Kalau sering mengamati akan lebih mudah apakah ini kaki kecil atau tergolong besar dan tak perlu membandingkan dengan ayam lain,” ujar Siripong saat ditanya tentung perbadingan besar kecilnya kaki.

Selain melihat dari diameter kaki, juga harus melihat bentuk jari-jari yang dimiliki. “Jari-jari harus kecil, semakin keujung semakin kecil,” papar Siripong sambil menunjukkan jari ayam yang dimaksud. “Apa istilahnya jari yang bentuknya demikian di Indonesia,” tanya Siripong pada Media Ayam. “Istilah bahasa Jawa ‘Merit’,” jawab Media Ayam singkat.

Bahkan menurut Siripong, memprediksi keistimewaan ayam tarung berdasarkan kaki 90 % akurat, sementara berdasarkan anatomi atau katurangga lainya akurasinya hanya 50 %. Tentu saja Siripong menyarankan, paling utama memilih ayam tarung harus melihat kakinya, meskipun tidak boleh meninggalkan tanda atau ciri-ciri anatomi lainnya sebagai penunjang.

Lebih penting lagi harus ditunjang perawatan dan latihan serta makanan yang sesuai dengan kebutuhan ayam tarung termasuk vitamin dan obat-obatan yang diperlukan, yang bisa membuat kondisi ayam tarung semakin prima, sehingga keistimewaan yang dimiliki dapat digunakan secara maksimal tepat pada sasaran yang mematikan.

Mengingat bagaimanapun keistimewaan pukulan kaki yang dimiliki, jika tidak ditunjang dengan tenaga atau kekuatan yang maksimal pula tidak akan berarti apa-apa, sementara untuk menghasilkan tenaga yang maksimal dapat dibantu melalui latihan dan ditunjang pakan serta obat-obatan yang tepat, selain itu peran anatomi lain untuk menghasilkan pukulan juga sangat diperlukan misalnya kondisi bulu sayap dan ekor, jika bulu sayap dan ekor sempurna akan membantu kekuatan saat melancarkan pukulan.

Begitu pula dengan ketrampilan paruh, semakin cekatan dalam mematuk akan semakin sering melepaskan pukulan ke lawan dan mantapnya patukan akan membuat ayam yang dipukul semakin terasa selain sasaranya tepat juga menahan kepala saat melancarkan pukulan membuat pukulan semakin terasa sakitnya.

Sabtu, 08 Desember 2012

Stamina dan otot ayam petarung

Stamina dan otot ayam petarung
Apa yang penting yang menjadi patokan para bebotoh dalam mengukur kemampuan ayam dalam bertarung. Setiap bebotoh mempunyai standar yang beragam dan berbeda-beda. Wiring kuning, warna merah dan hitam,kaki yang tumpuk bila diangkat, pegangan yang pas dan cekelannya empuk seperti memegang bebek dan sebagainya. Semua ini berdasarkan dari hasil pengalaman para bebotoh yang telah melahirkan berbagai Jagoan yang selama ini diyakini mempunyai kekuatan dan pukul. Namun walaupun demikian, pukul sendiri memang belum memberikan suatu patokan yang pasti, dimana hal yang juga dapat dijadikan sebagai acuan adalah seberapa keras dan akurat pukulnya dan seberapa tahan napasnya.

Akurasi pukulan pada ayam petarung dipengaruhi dua faktor penting yaitu pertama perbandingan ideal tulang kaki dan faktor kedua adalah Otot yang berperan penting dalam menentukan arah, kecepatan dan kekuatan pukulan.

Otot bekerja dengan cara menarik bukan mendorong. Kerja otot membutuhkan suatu senyawa yang disebut dengan ATP (adenosin triphospate) dan Creatin phospate yang juga bersal dari ATP. Beberapa sumber yang berpengaruh langsung adalah karbohidrat, lemak dan protein yang dioksidasi melalui siklus Kreb dan secara langsugn dapat membebaskan ATP yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar otot. Selain itu otot juga membutuhkan CALSIUM (Ca) dalam bekerja atau berkontraksi dan relaksasi. Inilah sebabnya mengapa ayam petarung yang pakan utamanya Jagung mempunyai otot lebih bagus dan kekuatan pukul yang baik dibandingkan pakan utama yang lain.


Bentuk otot yang baik pada ayam petarung adalah otot yang berserabut halus tanpa perlemakan serta tanpa pembesaran sel otot sendiri. Hal ini untuk mendapatkan akurasi pukulan yang baik, sehingga otot harus kuat, liat dan lentur. Pada manusia dapat dianalogikan kira-kira sama dengan otot yang dimiliki atlit tinju kelas ringan, karate, lari cepat atau bulu tangkis yang mengutamakan kecepatan, kelenturan dan akurasi pukulan. Banyak bebotoh yang senang dgn tipe pukulan berat, padahal akan lebih baik bila ayam petarung memiliki tipe pukulan yang mempunyai akurasi dan frekuensi yang tinggi, istilah lainnya adalah memukul dengan tepat, manggon dan cepat. Dan selain itu, ayam petarung yang memiliki otot yang halus akan mempunyai kelebihan dan kemungkinan yang lebih tinggi untuk mampu memukul di ruang sudut yang sempit dibandingkan dengan ayam berserabut otot yang kuat/berotot yang cenderung dan hanya dapat memukul baik jika mendapat ruang pukul yang cukup.

Untuk kesehariannya, latihan yang diperlukan utk membentuk serabut otot yang halus adalah latihan kecepatan yang dilakukan tanpa beban. Kadang kala ada bebotoh yang melatih ayamnya dgn memberi pemberat pada kaki ayam atau menekan ayam sehingga ayam jalan setengah merangkak. Dengan metode latihan ini akan menghasilkan otot besar dan kuat tetapi lamban dan kaku. Latihan lari dengan cara mengitari babon/untulan akan jauh lebih baik daripada latihan yang mengutamakan kekuatan.

Selanjutnya walaupun ayam petarung telah memiliki Otot yang baik faktor lain yang mendukung dan sangat penting adalah Stamina. Stamina ayam petarung tergantung 3 hal penting yaitu Kadar HB, Kemampuan Kerja Jantung, dan Paru-Paru. Untuk membuat HB yang tinggi, ayam petarung harus mendapatkan nutrisi yang cukup. Nutrisi yang paling penting adalah protein, dan selain itu vitamin dan mineral akan sangat berperan dalam membentuk darah baru. Umumnya ayam petarung di Indonesia hanya mendapatkan diet pakan utama berupa Gabah, beras merah atau jagung. Diet ini hanya mengandung protein berkisar sebesar 6%-8% . Dalam kondisi diet/pakan yang ditakar, ayam petarung akan kesulitan menjaga stamina karena angka kebutuhan protein yang optimal bagi ayam petarung adalah berkisar antara 12%-14%. Untuk hal ini, maka sangat dianjurkan sekali bagi bebotoh untuk memberikan makanan tambahan untuk mencukupi kebutuhan protein ayamnya.

Cara lain yang digunakan oleh bebotoh untuk meningkatkan HB ataupun Stamina adalah memberikan suntikan Neurobion, akan tetapi pemberian suntikan neurobion tidak dapat langsung menghasilkan butir darah baru dengan segera, karena ayam petarung masih membutuhkan protein dan mineral lain seperti besi (Fe) dan tembaga (Cu). Pemberian pakan ayam petelur secara rutin yang memiliki kadar protein 18,0 dan kalori 1350 - 1400 akan memberikan hasil yang lebih baik, dan hal ini lebih baik dibandingkan dengan pemberian telur dan madu yang mengandung karbohidrat dan lemak tinggi (kalori tinggi), dan seringnya pemberian telur dan madu hanya akan membuat ayam petarung cenderung menjadi lebih gemuk yang akhirnya dapat mengganggu aktivitas dan gerak ayam petarung saat bertarung.

Faktor lain di dalam meningkatkan dan menguatkan Stamina ayam petarung adalah menjaga kerja jantung dan paru-paru secara maksimal, maka satu-satunya cara adalah memberikan latihan yang rutin dan cukup bagi ayam petarung, dan tanpa adanya disiplin pada latihan, maka stamina ayam akan turun saat melakukan pertarungan.
(sumber: ayam-tarung.blogspot.com)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...