Tampilkan postingan dengan label Vaksinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaksinasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Langkah-langkah penanganan vaksin AI saat diterima oleh peternak

Penanganan vaksin AI yang benar saat sudah diterima oleh konsumen (peternak atau poultry shop)? Berikut langkah-langkahnya:

1.  Simpan vaksin dalam lemari es

Langkah-langkah penanganan vaksin AI saat diterima oleh peternak

Vaksin AI yang sudah sampai di tingkat konsumen bisa disimpan dalam lemari es yang diset pada suhu 2-8°C. Adapun prosedur penyimpanannya antara lain:
  • Vaksin disimpan pada lemari es bagian refrigerator dan jangan menyimpan vaksin pada bagian freezer.
  • Vaksin inaktif, seperti vaksin AI, tidak boleh disimpan pada rak yang berada tepat di depan pintu dan di bawah freezer.
  • Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin. Jangan membuka tutup lemari es terlalu sering agar suhu di dalamnya tetap stabil.
  • Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi.
Di peternakan sering ditemukan kasus padamnya listrik yang berakibat matinya lemari es. Pada kondisi demikian, lama-kelamaan suhu lemari es akan meningkat. Selama suhu lemari es masih dalam interval 2-8°C maka hal ini tidak akan mempengaruhi kualitas vaksin. Oleh karena itu saat listrik padam dan kita tidak memiliki generator listrik (genset), maka alternatifnya kita bisa menambahkan beberapa batu es sehingga suhu lemari es tetap optimal untuk menyimpan vaksin.

Namun jika suhu vaksin sudah berada di luar interval 2-8°C dalam waktu > 2 jam (untuk vaksin aktif) atau > 24 jam (untuk vaksin inaktif), maka hendaknya vaksin tidak lagi digunakan meskipun secara fisik tidak ada perubahan. Saat suhu lemari es melewati batas suhu penyimpanan, dikhawatirkan kandungan mikroorganisme vaksin sudah kehilangan potensinya dan tidak mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara optimal.

2.  Membawa vaksin

Saat akan dibawa ke kandang, vaksin dimasukkan ke dalam marina cooler, cold box atau termos es berisi es batu. Posisi yang benar adalah vaksin dibawah kemudian es batu diatasnya. Hal ini terkait dengan penyebaran suhu dingin dari atas ke bawah sehingga diharapkan vaksin akan terlindungi. Perbandingan vaksin dengan es batu minimal 1:1.

3.  Thawing vaksin
Langkah-langkah penanganan vaksin AI saat diterima oleh peternak

Satu hal yang terkadang salah di mengerti saat aplikasi vaksinasi yaitu anggapan bahwa saat vaksinasi dilakukan, vaksin harus tetap dikondisikan suhu dingin. Hal ini salah besar. Oleh karena itu, lakukan thawing vaksin (peningkatan suhu vaksin secara bertahap) terlebih dahulu sebelum vaksin AI digunakan. Thawing bertujuan mengkondisikan suhu vaksin yang sebelumnya 2-8°C mendekati suhu tubuh ayam (41°C) dengan cara digenggam sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, suhunya sekitar 25-27°C. Setelah di-thawing, sebaiknya vaksin tidak dimasukkan lagi ke dalam marina cooler yang suhunya 2-8°C karena bisa menurunkan potensi vaksin. Vaksin AI inaktif harus segera diberikan setelah proses thawing dan hendaknya habis digunakan dalam waktu 24 jam.

Menjaga kualitas vaksin, seperti vaksin AI bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin dan hanya dilakukan di tingkat pabrik saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinyu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan peternak. Hal ini tidak lain bertujuan agar vaksin berkualitas mampu membentuk kekebalan pada ayam secara optimal. Salam.
(sumber: infomedion.co.id)

Minggu, 10 Maret 2013

Jadwal pemberian vaksin untuk ternak ayam

Jadwal pemberian vaksin untuk ternak ayam
Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan dalam memelihara ayam adalah management. Bibit yang baik dengan penanganan yang asal asalan malah menyebabkan panen yang tidak maksimal. Berikut adalah contoh program management pemeliharaan dan vaksin ayam kampung yang kami pakai sampai hari ini. Yang kami pakai adalah program vaksin fast track dimana tidak ada pengulangan vaksin. Program ini cocok apabila masa panen ayam < 70 hari dan untuk menghemat biaya waktu dan tenaga kerja.

Apabila Anda masih ragu, dapat menggunakan program vaksin standart berikut.
Standart vaksin
Umur   4 hari : Vaksin ND-IB dan ND-AI Emulsion
Umur 11 hari : Vaksin AI (hanya diberikan apabila saat umur 4 hari tidak divaksin AI)
Umur 14 hari : Vaksin Gumboro
Umur 21 hari : Vaksin ND Lasota atau ND-IB (optional)
Umur 28 hari : Vaksin Gumboro (revaks)

NB: untuk cara pemberian vaksin tertera di label kemasan vaksin
Fast track Program
Umur   4 hari : Vaksin ND-IB dan ND-AI Emulsion
Umur 11 hari : Vaksin SHS (optional)
Umur 14 hari : Vaksin Gumboro
Umur 21 hari : Vaksin Coryza (optional)
Umur 28 hari : Vaksin Gumboro

(sumber: dawungfarm.blogspot.com)

Selasa, 26 Februari 2013

Cara melakukan vaksinasi pada ternak ayam

Cara melakukan vaksinasi pada ternak ayam
Ada beragam cara untuk melaksanakan vaksinasi. Saat ini, metode yang lazim dilakukan di antarannya vaksinasi melalui mata, hidung, mulut, penyuntikan, pakan, minum, dan penyemprotan.
  • Tetes Mata (Intra-ocular)
Vaksinasi tetes mata dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Cara pelaksanaannya sebagai berikut.
  1. Tuangkan pelarut ke dalam botol vaksin hingga terisi 2/3 bagian botol.
  2. Tutup botol, lalu kocok secara perlahan hingga vaksin tercampur merata.
  3. Ganti tutup botol dengan tutup botol untuk vaksin tetes mata.
  4. Agar vaksin cepat habis, bagi vaksin menjadi 3-4 bagian yang dipakai secara bersamaan oleh vaksinator yang berbeda.
  • Tetes Hidung (Intranasal)
Seperti namanya, vaksin tetes hidung dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke dalam lubang hidung. Tahapan pelaksanaan vaksinasi ini sama seperti vaksinasi tetes mata.

  • Melalui Mulut atau Cekok (Intraoral)
Pada metode vaksinasi mulut, vaksin diumpankan ke ayam melalui mulutnya dengan cara dicekok. Pelaksanaan vaksinasi ini sama dengan cara vaksin melalui air minum. Perbedaannya, vaksinasi dilakukan pada ayam secara individu sehingga setiap ayam mendapatkan dosis vaksin yang sama.
Contohnya, 1.000 ekor ayam akan dicekok 0,5 cc/ekor, sehingga air yang diperlukan sebanyak 500cc. Satu vil vaksin (dosis untuk 1.000 ekor) diampur dengan air akuades hingga 2/3 volume botol vaksin dan diaduk hingga tercampur merata. Setelah dituangkan ke dalam 500cc akuades. Larutan vaksin diaplikasikan melalui mulut atau dicekok.


  • Suntik Daging (Intramuscular)
Vaksinasi suntik daging dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin ke dalam daging. Biasanya, penyuntikan dilakukan di bagian dada dan paha. Vaksin yang disutikkan bisa berupa vaksin yang masih hdup atau sudah mati. Cara pencampuran vaksin dan banyaknya air yang dibutuhkan untuk vaksin hidup sama seperti pada vaksinasi melalui mulut. Namun, tentu saja, vaksinasi dilakukan melalui jarum sunik. Adapun pelaksanaan vaksinasinya sebagai berikut.
  1. Sebelum digunakan, kocok vaksin ecara hati-hati hingga tercampur merata.
  2. Suntikkan vaksin ke daging dengan dosis sesuai anjuran.
  3. Semua peralatan yang digunakan harus steril, baik ketika melakukan vaksinasi maupun setelah digunakan.
  • Suntik Bawah Kulit (Subcutaneous)
Vaksinasi suntik bawah kulit dilaksanakan dengan cara mentuntikkan vaksin di bawah kulit, biasanya di area sekitar leher. Pelaksanaannya sama dengan persiapan melakukan vaksinasi suntik daging.

  • Melalui Air Minum (Drinking Water)
Pada vaksinasi melalui air minum, vaksin dituangkan ke dalam air yang disediakan untuk minum ayam. Air yang digunakan untuk melarutkan vaksin harus bersih dan bebas klorin. Peralatan yang harus dipakai harus bebas dari disinfektan lebih dari dua hari. Untuk memperpanjang umur vaksin, tambahkan 2-5 gram skim per liter air (tergantung dari kondisi air) ke dalam air.
Sebagai contoh, jumlah air yang digunakan untuk vaksinasi 1.000 ekor ayam yang berumur 7-4 hari adalah 10-14 hari adalah 10-20 liter. Sementara itu, ayam yang sudah dicampur dengan vaksin harus segera diberikan secara merata kepada ayam. Sebelum diberikan vaksin, ayam harus dipuasakan selama 1 jam. Disamping itu, tempat minum ayam harus terhindar dari sinar matahari langsung.
  • Penyemprotan (Spray)
Vaksinasi dengan cara penyemprotan sering digunakan untuk memberikan vaksin kepada ayam yang baru berumur satu hari. Sebelum ayam tersebut dimasukkan ke dalam kandang pemanas, alat semprot yang akan digunakan harus sudah terpasang sehingga boks ayam bisa langsung dimasukkan ke dalam kotak sprayer. Setelah semua peralatan siap, vasinasi segera dilaksanakan dengan cara menyemprotkan vaksin sebanyak 1-2 kali. Aplikasi vaksinasi untuk ayam besar dilakukan dengan menggunakan sprayer khusus. Aplikasi ini akan lebih efektif jika dilakukan di lingkungan yang terkontrol atau tidak banyak angin.

  • Tusuk Sayap (Wing web)
Vaksinasi tusuk sayap dilaksanakan dengan cara menusukkan jarum di sekitar selaput sayap ayam dari arah bagian dalam sayap. Cara melarutkan vaksin metode ini sama dengan cara melarutkan vaksin melalui tetes mata. Pelarut yang digunakan biasanya pelarut khusus untuk vaksinasi melalui tusuk sayap. Alat yang dipakai dalam vaksinasi ini berupa jarum bercabang dua.

  • Melalui Pakan (Feeding)
Vaksinasi melalui pakan dilaksanakan dengan cara mencampurkan vaksin ke dalam pakan ayam. Cara ini biasanya digunakan untuk pengaplikasian vaksin cocci. Pakan yang dipakai harus bebas dari preparat anticocci (amprolium, sulfaquinoxaline, dan preparat sulfa lainnya). Cara pelaksanaannya, vaksin dicampur ke dalam pakan, lalu diberikan kepada ayam. Tempat pakan yang dipakai untuk vaksinasi adalah tempat makan ayam.
(sumber: ternak-ayambroiler.blogspot.com)

Rabu, 24 Oktober 2012

Yang harus diperhatikan saat mengobati penyakit ayam

Yang harus diperhatikan saat mengobati penyakit ayam
Pemberian obat pada ayam yang terserang penyakit adakalanya memberikan hasil yang kurang memuaskan. Meskipun kita telah merasa yakin bahwa jenis obat yang kita berikan sesuai dengan penyakit yang menyerang. Tidak menutup kemungkinan juga, kita berasumsi bahwa kualitas obat yang diberikan tidak baik.

Penarikan kesimpulan mengenai kegagalan pengobatan hendaknya telah melewati serangkaian evaluasi dan analisis mengenai teknik maupun aplikasi pengobatan yang telah dilakukan. Mengingat, cara pemberian obat ini mempunyai andil yang besar terhadap efektivitas pengobatan. Obat dengan kualitas yang bagus tidak akan bisa bekerja secara optimal jika ada kesalahan pada teknik aplikasinya. Akibatnya sasarannya tidak tepat atau cara kerja obat tidak optimal sehingga penyakit tidak bisa diatasi. Ada hal yang perlu kita ketahui, cara pemberian obat sangat berpengaruh pada stabilitas obat, kadar obat yang diserap tubuh, kecepatan menghasilkan efek dan lama pengobatan yang notabene menjadi faktor penting yang diperlukan oleh obat untuk melepaskan khasiatnya.

Keberhasilan pengobatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karenanya pengobatan lebih cocok disebut sebagai seni daripada teknik pengobatan.

Prinsip Pengobatan

Prinsip pengobatan menjadi parameter yang harus diketahui dan dipahami saat kita melakukan pengobatan. Penerapan salah satu prinsip pengobatan ini yang kurang sesuai akan berpengaruh pada tingkat keberhasilan pengobatan, tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan kegagalan pengobatan. Jenis obat yang sesuai dengan penyakit, obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit, obat tersedia dalam kadar yang cukup dan obat berada dalam waktu yang cukup menjadi 4 prinsip pengobatan.

Obat sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang

Setiap obat mempunyai efek yang berbeda dan spesifik terhadap setiap penyakit. Pemilihan obat yang tepat menjadi tahapan pertama yang menentukan keberhasilan pengobatan. Bagaimanapun baiknya cara pemberian obat, tetapi bila kita salah dalam memilih jenis obat, maka bukan suatu keniscayaan efek pengobatan tidak akan optimal.

Tidak semua obat dapat digunakan untuk mengatasi serangan CRD. Contohnya pemberian ampisilin atau amoksilin tidak dapat mengatasi serangan CRD. Hal ini disebabkan bakteri CRD, Mycoplasma gallisepticum tidak mempunyai dinding sel yang berperan sebagai reseptor ampisilin. Sebaliknya, obat yang cocok untuk mengobati penyakit CRD ialah doksisiklin yang memiliki kemampuan menghambat sintesis protein pada reseptor yang terdapat pada M. gallisepticum (ribosom 30S).
  • Obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit
Obat yang diberikan harus mampu mencapai target organ, lokasi kerja atau organ sakit sehingga obat bisa berkerja secara tepat dan optimal. Pemilihan rute pengobatan menjadi hal yang penting untuk memastikan obat dapat mencapai organ atau lokasi kerja yang diinginkan. Untuk mengobati penyakit infeksi pernapasan yang parah dengan efek pengobatan yang segera maka rute parenteral, secara suntikan atau injeksi menjadi pilihan utama. Namun bila tidak tersedia sediaan parenteral maka sediaan oral melalui cekok atau air minum dengan kandungan obat yang memiliki efek sistemik dapat menjadi alternatif pilihan, seperti obat dari golongan fluoroquinolon atau penisilin.

Melalui pemilihan dan pengaplikasian rute pengobatan yang benar akan meminimalisasi kemungkinan obat rusak maupun tereliminasi dari tubuh ayam sebelum mencapai organ target.
  • Obat tersedia dalam kadar yang cukup
Obat akan menghasilkan efek pengobatan yang optimal saat konsentrasi atau kadarnya di dalam tubuh ayam mencapai kadar minimum atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Sebelum obat mencapai kadar MIC, obat tidak akan bekerja menghasilkan efek pengobatan.

Kadar obat di dalam tubuh dipengaruhi oleh kondisi alamiah tubuh ayam sendiri, dimana ayam mempunyai respon yang berbeda terhadap obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. “Nasib” obat di dalam tubuh ayam dapat diketahui melalui uji farmakokinetik. Hasil uji farmakokinetik tersebut digunakan oleh apoteker dan dokter hewan sebagai dasar penentuan dosis sehingga obat dapat mencapai organ target dalam jumlah yang cukup melalui rute pengobatan tertentu.
  • Obat berada dalam waktu yang cukup
Secara alami, kadar obat di dalam tubuh akan berkurang dalam jangka waktu tertentu. Ada parameter penting yang berhubungan dengan kecepatan eliminasi obat, yaitu waktu paruh.

Waktu paruh yang diberi simbol T1/2 merupakan waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi obat sebanyak 50% dari kadar semula. Obat dengan T1/2 pendek akan berada di dalam tubuh lebih singkat dibanding dengan yang mempunyai T1/2 panjang. Pada aplikasinya, obat dengan T1/2 pendek perlu diberikan dengan interval waktu lebih pendek, misalnya diberikan 2-3 kali sehari untuk mempertahankan kadar efektif di dalam darah. Sulfadimethoxine dan sulfamonomethoxine merupakan antibiotik dengan T1/2 yang panjang sedangkan antibiotik lainnya seperti tetrasiklin, penisilin memiliki T1/2 yang pendek.


Rute Pemberian Obat
Obat dapat diberikan pada ayam melalui 3 rute, yaitu oral (melalui saluran pencernaan), parenteral/suntikan atau secara topikal (dioles). Pemilihan rute pemberian obat ini disesuaikan dengan jenis obat yang digunakan, jenis penyakit yang diobati, jumlah ayam, tingkat keparahan penyakit dan lama waktu obat tersebut diberikan.
  • Oral
Rute pemberian obat secara oral dilakukan melalui mulut (saluran pencernaan) baik secara cekok, campur ransum atau air minum. Contoh sediaan obat yang diberikan secara oral ialah serbuk larut air atau campur ransum, kaplet atau kapsul. Obat yang diberikan secara oral akan bekerja dengan cara langsung membunuh agen penyakit di saluran pencernaan atau diserap melalui usus untuk kemudian didistribusikan ke organ tubuh yang terinfeksi.

1. Air minum

Berdasarkan pengamatan kami, pada peternakan unggas 95% obat diberikan melalui oral, via air minum dan selebihnya, yaitu 5% obat diberikan secara parenteral atau suntikan (Technical Service Medion, 2006). Hal ini karena aplikasi obat via air minum relatif mudah, cepat dan bisa diberikan secara masal (jumlah banyak).
  • Agar pencampuran obat melalui air minum mampu memberikan efek pengobatan yang optimal perlu sekiranya kita memperhatikan beberapa hal berikut :
  • Air sadah dan adanya kandungan logam berat seperti besi, dapat mengurangi efektivitas antibiotik golongan fluorokinolon dan tetrasiklin
  • Derajat keasaman (pH) terlalu ekstrem (pH < 6 atau pH > 8). Obat sulfa akan mengendap bila dilarutkan ke dalam air dengan pH terlalu rendah (pH < 5)
  • Sinar matahari langsung dapat mengurangi stabilitas obat di dalam larutan. Oleh karena itu larutan obat hendaknya dibuat segar dan diletakkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung
  • Konsumsi air minum setiap ayam berbeda-beda sehingga jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh setiap ayam tidak sama. Hal ini dapat diminimalisasi dengan penyediaan tempat air minum yang sesuai dengan jumlah ayam
Sebuah percobaan telah kami lakukan untuk melihat efek konsumsi air minum yang berfluktuasi. Trial dilakukan pada ayam petelur umur 22 minggu yang diberi obat enrofloksasin 50 mg/l (10 mg/kg berat badan) selama 5 hari berturut-turut. Akibat konsumsi air minum yang berfluktuasi antara 190 - 255 ml/hari maka dosis obat yang masuk ke dalam tubuh ayam berkisar 9-13 mg/kg berat badan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selalu mengevaluasi water intake selama proses pengobatan. Pastikan air minum yang dicampur obat habis dikonsumsi ayam, jika tidak maka pada hari berikutnya kurangi jumlah air minum yang digunakan untuk melarutkan obat (note : tanpa mengurangi jumlah obat yang harus dilarutkan).

Praktek pemberian obat melalui air minum seringkali berbeda-beda antar peternak. Idealnya obat diberikan selama 24 jam atau minimal 12 jam dengan maksimal obat dikonsumsi habis selama 4-6 jam setelah obat dilarutkan. Contoh pola pemberian obat yang ideal yaitu 2 kali sehari, pelarutan obat ke-1 untuk dikonsumsi pagi-siang hari (misalnya pukul 07:00-12:00) dan pelarutan obat ke-2 untuk dikonsumsi siang-malam hari (misalnya 12:00-17:00) sedangkan pada malam-pagi diberi air minum biasa.

Hal yang perlu diingat jika kita menggunakan dosis berdasarkan air minum ialah jumlah air minum yang digunakan untuk menghitung kebutuhan obat merupakan konsumsi air minum ayam selama 24 jam bukan konsumsi air minum ayam saat pemberian obat. Atau lebih amannya bisa memakai dosis berat badan, dimana tidak tergantung dengan jumlah konsumsi air minum. Caranya dengan mengubah dosis berdasarkan air minum yang tertulis di etiket atau leaflet, misalnya 1 g per 2 l air minum menjadi 1 g per 10 kg berat badan (dengan rumus konversi 2 l air minum dikonsumsi oleh 10 kg ayam).

Pemberian antibiotik melalui air minum sebaiknya tidak dilakukan dalam 1 x pemberian dalam waktu yang terlalu singkat (misalnya selama 2 jam), terlebih lagi untuk obat yang mempunyai T1/2 pendek, contohnya ampisilin. Alasannya kadar obat tersebut di dalam darah akan cepat turun setelah pemberian selama 2 jam dan gagal mencapai konsentrasi minimal (MIC) sehingga obat tidak bekerja optimal. Vitamin A setelah dilarutkan di dalam air minum dapat berkurang kadarnya sebanyak 50% dalam waktu 6 jam. Oleh karenanya perlu penanganan sedemikian rupa (misalnya vitamin diberikan selama 2 jam) agar vitamin tidak rusak selama pemberian.

Jumlah dan distribusi tempat minum yang berisi obat juga harus diperhatikan. Jangan sampai ada ayam yang kesulitan atau tidak bisa memperoleh obat dalam kadar yang cukup. Selain itu, atur waktu pelarutan obat, hendaknya tidak lebih dari 4-6 jam agar potensi obat optimal.

2. Ransum

Pemberian obat melalui ransum relatif jarang dilakukan. Biasanya obat yang diberikan melalui ransum merupakan obat yang tidak larut dalam air minum, contohnya ialah Levamid yang diberikan melalui ransum.

3. Cekok

Aplikasi cekok merupakan teknik pengobatan secara individual. Jenis sediaan obat yang diberikan secara cekok antara lain bentuk kapsul atau kaplet dan larutan. Teknik aplikasi ini kurang sesuai jika diterapkan pada populasi yang banyak, lebih cocok diaplikasikan pada kasus penyakit yang individual. Meskipun kelebihan teknik aplikasi ini ialah dosis obat lebih terjamin.
  • Parenteral
Pada unggas (ayam), teknik pemberian obat ini seringkali dilakukan secara suntikan subkutan di bawah kulit (leher bagian bawah) atau suntikan intramuskuler (tembus daging atau otot) pada paha atau dada. Selain kedua teknik tersebut, pemberian obat injeksi juga bisa diaplikasikan dengan cara suntikan intravena atau langsung pada pembuluh darah. Namun, teknik aplikasi ini relatif jarang bahkan tidak pernah diterapkan pada unggas (ayam).

Teknik ini akan menghasilkan efek pengobatan yang relatif cepat karena tidak melalui proses absorpsi di saluran pencernaan yang relatif lama. Keuntungan lainnya ialah dosis lebih terjamin, tepat dan efeknya cepat. Namun, aplikasi teknik ini menyebabkan tingkat stres ayam relatif tinggi dan membutuhkan waktu lebih lama dalam pengobatan. Selain itu, alat suntik yang digunakan haruslah steril dan jarum suntik hendaknya diganti setiap penyuntikan 300-500 ekor agar tetap tajam.
  • Topikal
Topikal atau pemberian obat secara lokal adalah pengobatan obat yang diaplikasikan dengan cara dioleskan atau cara lain secara langsung pada kulit, mata, hidung atau bagian tubuh eksternal lainnya. Contoh obat topikal adalah serbuk antibiotik atau salep yang digunakan untuk mencegah infeksi pada luka serta sediaan cair yang digunakan pada mata. Cil dan Anti Pick merupakan produk Medion yang diaplikasikan secara oles.

Suatu jenis obat ada yang dapat diberikan melalui berbagai teknik pemberian obat, namun ada juga yang hanya khusus diberikan melalui satu macam cara saja. Contohnya vitamin dapat diberikan melalui air minum, ransum dan injeksi intramuskuler, namun gentamisin (antibiotik) hanya dapat diberikan melalui injeksi baik intramuskuler maupun subkutan karena tidak dapat diserap di saluran pencernaan. Untuk memastikan cara pemberian peternak dapat memeriksa jenis sediaan dan aturan pakai yang tercantum pada etiket atau leaflet.

Perlu Dihindari

Pemberian obat, terutama melalui air minum hendaknya tidak dicampur dengan desinfektan. Hal ini disebabkan pencampuran tersebut akan menurunkan bahkan merusakan obat. Contohnya ialah iodin (Antisep, Neo Antisep) atau klorin akan mengoksidasi antibiotik atau vitamin, sedangkan quats (Medisep, Mediklin) bisa mengendapkan obat dengan kandungan sulfonamida.

Kualitas air yang tidak sesuai standar jika digunakan untuk melarutkan obat akan mengakibatkan penurunan potensi obat. Oleh karena itu, pastikan kualitas air melalui pengujian laboratorium sebelum digunakan untuk melarutkan obat. Medion menyediakan fasilitas untuk pengujian air minum dengan parameter uji fisik, kimia maupun biologi.

Pencampuran atau kombinasi obat sebaiknya juga dihindarkan, terlebih lagi pencampuran antibiotik yang tidak tepat akan mengakibatkan rusaknya obat tersebut. Alangkah lebih baiknya jika kita menggunakan produk obat jadi yang dihasilkan dari perusahaan obat hewan. Sebagai contohnya Amoxitin dengan kandungan penisilin tidak boleh dicampur dengan Tyfural yang mengandung antibiotik golongan makrolida. Hal ini disebabkan kedua golongan antibiotik tersebut memiliki sifat yang berbeda. Penisilin bersifat bakterisidal (menghambat) dan makrolida bersifat bakterisid (membunuh). Kombinasi kedua golongan antibiotik ini akan mengakibatkan penurunan potensi obat, kecuali jika target kerja antibiotik tersebut berbeda.

Pendukung Keberhasilan Pengobatan


Setelah kita memperhatikan dan menerapkan ke-4 prinsip pengobatan tersebut, agar efek pengobatan menjadi lebih optimal perlu didukung dengan pelaksanaan manajemen pemeliharan secara baik dan penerapan biosecurity secara ketat. Pemberian multivitamin maupun elektrolit setelah aplikasi obat juga dapat membantu mempercepat kesembuhan ayam.

Saat efek pengobatan mengalami kegagalan atau tidak optimal maka kita bisa mengevaluasi beberapa hal berikut :
  1. Ketepatan diagnosa penyakit
  2. Jenis obat yang dipilih hendaknya sesuai dengan penyakit yang menyerang
  3. Tepatnya dosis obat yang diberikan
  4. Rute pemberian obat haruslah sesuai dengan jenis obat maupun lokasi kerja (organ target)
  5. Hindari kombinasi obat yang bersifat antagonis
  6. Kompleksitas penyakit
  7. Tingkat keparahan penyakit
  8. Resistensi antibiotik dan perlunya dilakukan rolling pemakaian antibiotik
  9. Penerapan manajemen pemeliharaan dan program biosecurity yang kurang tepat
Obat yang diberikan pada ayam hendaknya tidak monoton atau satu jenis obat diberikan terus-menerus untuk mengatasi suatu penyakit karena dapat memicu terjadinya resistensi. Oleh karena itu, lakukan rolling pemberian obat, misalnya setiap 3-4 periode pemeliharaan. Selain itu, dosis dan aturan pakai yang tidak sesuai (dosis kurang) dengan yang tercantum dalam leaflet atau etiket produk juga dapat mengakibatkan terjadinya resistensi.

Bila peternak telah menerapkan cara pemberian obat sesuai dengan praktek yang benar, tapi ayam tidak kunjung sembuh sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter hewan atau tenaga lapangan untuk memastikan penyebab ketidakberhasilan pengobatan. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Pengobatan akan lebih efektif dan efisien jika ditunjang dengan diagnosa yang tepat, tata laksana kandang yang baik dan penerapan biosecurity yang ketat.
(sumber: infomedion.co.id)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Sejarah vaksin dan macam-macamnya

Sejarah vaksin dan macam-macamnya
Pada akhir tahun 1970-an, bioteknologi mulai dikenal sebagai salah satu revolusi teknologi yang sangat menjanjikan di abad ke 20 ini. Pentingnya bioteknologi secara strategis dan potensinya untuk kontribusi dalam bidang pertanian, pangan, kesehatan, sumberdaya alam dan lingkungan mulai menjadi kenyataan yang semakin berkembang.

Saat ini walaupun masih dalam taraf pengembangan, industri bioteknologi mulai matang dan menghasilkan produk-produk yang dapat dipasarkan. Dimana keberhasilan-keberhasilan komersial dan terobosan-terobosan teknologi yang dramatis telah dan sedang diraih. Walaupun demikian, harapan-harapan mengenai penerapan bioteknologi pada 15-20 tahun yang lalu dapat dikatakan belum seluruhnya menjadi kenyataan
Dan bahkan hambatan-hambatan yang muncul kadangkala tidak diantisipasi sebelumnya.

Dalam GBHN 1993 khususnya sasaran Bidang Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pelita VI, Bioteknologi juga dimasukkan dalam Kebijaksanaan Nasional sebagai suatu bidang Iptek yang perlu dikembangkan.
  • Pengobatan baru dan diperbaiki - untuk mengobati penyakit,
  • Antibiotika - yang lebih baik dan lebih murah
  • Vaksin – penyakit viral
  • Tes cepat – membantu dokter hewan untuk diagnosa yang akurat untuk berbagai penyakit
  • Metoda yang diperbaiki – untuk kecocokan organ dalam transplantasi
  • Teknik-teknik – untuk mengoreksi dan mengobati penyakit
macam-macam vaksin :
  1. Vaksin AI : untuk mencegah wabah flu burung
  2. Vaksin Coryza : untuk mencegah timbulnya wabah Snot atau Coryza (suntik)
  3. Vaksin ND + IB : untuk mencegah penyakit Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis ( tetes mata / suntik di dada tergantung umur ayam)
  4. Vaksin ND : untuk mencegah penyakit Newcastle Disease pada unggas (tetes/suntik)
  5. Vaksin Marek : untuk mencegah penyakit Marek dan diberikan secara saat kecil (DOC)
  6. Vaksin IB : untuk membuat ayam tahan terhadap Infectious Bronchitis (dicampur air minum)
  7. Vaksin Gumoro : mencegah sakit gumboro ( diberikan pada air minum.)
  8. Vaksin Coryza : untuk mencegah timbulnya wabah Snot atau Coryza (suntik)
  9. Vaksin Fowl Pox/Cacar : (suntik sayap)
  10. Vaksin ILT : untuk kebal pd infeksi pada saluran laringotracheal (tetes mata, tetes hidung , dikasih diair minum)
  11. Vaksin EDS : untuk mencegah terjadinya Egg Drop Syndrom pada ayam
(sumber: aguswidi88.blogspot.com)

Sabtu, 29 September 2012

Daun Pepaya untuk mengobati penyakit tetelo (ND)

Daun Pepaya untuk mengobati penyakit tetelo (ND)
Ayam adalah sejenis unggas yang punya tingkat variasi tingkat tinggi. Mulai dari bentuk dan postur tubuh hingga pada bentuk piyal . ayam merupakan hewan ternak yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Indonesia. Ayam yang biasanya dipelihara adalah ayam kampung yng mempunyai ketahanan lebih kuat dibandingkan ayam jenis lain. Namun, tidak tertutup kemungkinan bagi ayanm ini untuk terjangkit oleh penyakit. Salah satu penyakit-penyakit yang menyerang ayam kampung adalah NCD (New Castlle Desease) atau lebih dikenal dengan penyakit tetelo . tetelo adalah penyakit yang disebabkan oleh sejenis viris dan dapat menghinggapi segala jenis unggas.

Penyakit tetelo muncul di kota new castle (inggris) pada tahun 1926 kemudian menyebar ke sekuruh dunia termasuk indonesia. Sampai saat ini, tidak ada satupun daerah di indonesia yang bebas sepenuhnya dari penyakit ini. Penyakit ini sanggat banyak mendatangkan kerugian pasda peternak, karena 90-100% dari hewan yang menderita penyakit ini mengalami kematian. Penyakit ini terutama menyerang ayam baik pada usia muda ataupun yang dewasa. Biasanya terjadi pada masa pancaroba atau pada musim kemarau ke musim hujan. Cara penularannya adalah melalui ludah, feses, makanan dan minuman. Penularan juga melalui udara sehingga penyakit ini mudah menyebar kemana-mana.

Gejala yang tampak pada penderita adalah sebagai berikut :
  • Awalnya, ayam terlihat malas dan duduk merutu
  • Banyak mengeluarkan air mata
  • Pipi dan tenggorokan padat atau membengkak
  • Ayam terlihat selalu mengantuk dan ingin tidur
  • Dalam rongga mulut dan tekat terdapat lendir yang liat dan pekat sehingga susah bernafas
  • Sambil membersin dan berdehem ia mencoba mengeluarkannya
  • Adakalanya kelompok mata membengkak
  • Setelah itu ayam tampak semakin sukar bernafas dengan leher merenggang dan paruh ternganga
  • Balung dan piyalnya kadang berwarna merah keungu-unguan hingga lembayung tua
  • Setelah itu ayam akan lumpuh. Dalam keadaan lumpuh itu ia segera akan mati.

Penyakit ini disebabkan oleh virus paramyxo yang keganasannya bervariasi, yaitu
  1. Tipe ganas (velogenik) : hampir semua gejala diatas tampak dan tingkat kematiannya mencapai 80-100%
  2. Tipe sedang (mesogenik) : gejala berupa gangguan pernafasan dan saraf, tingkat kematiannya mencapai 10% pada ayam muda dan jarang terjadi pada ayam dewasa
  3. Tipe lemah (lentogenik) : gejalanya tidak terlalu nyata, ada sedikit gangguan pernafasan dan penurunan produksi telur, kualitas kulit telur menjadi menurun
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian vaksin yang diswebut “ Vaksin NCD pola 4-4-4” . maksudnya , vaksin NCD diberikan pada ayam yang berumur empat hari, empat minggu dan empat bulan. Tahap pemberian vaksin adalah sebagai berikut :
Untuk anak ayam berumur empat hari, diberi vaksin dengan cara tetes mulut atau tetes mata. Pemberian menggunkan pipet tetes. Pada mata diberikan masing-masing satu tetes. Tetesan pada mulut dilakukan sebanyak dua tetes.

Untuk ayam berumur empat minggu dan empat bulan, dilakukan pencegahan dengan cara penyuntikan, sebelum penyuntikan vaksin diencerkan dulu.

Mungkin terlalu berat biayanya atau ribet penggunaanya kalau kita menggunakan vaksin, berikut ini cara mngatasinya dengan pepaya, terutama menggunakan daunnya. berikut ini uraian tentang zat-zat yang dimiki pepaya dan kegunaannya.

Pepaya (Carica Papaya) dengan family Caricaceae merupakan tanaman yang aslinya dari amerika tengah. Di indonesia tanaman pepaya dapat ditanam hingga 1000 m dpl, akan tetapi dapat juga diusahakan pada daerah ketinggian hingga 1200-1500 m dpl. Di daerah sub tropis yang cukup panas, pepaya juga dapat diusahakan seperti di florida.

Zat-zat yang terkandung pada tanaman pepaya adalah sebagai berikut :
  • Daun : Enzim Papain, Alkaloid Karpaina, Pscuda Karpaina, Glikosid, Karposid dan Saponin.
  • Buah : Beta Karoteene, Peetin, D-galactosa, L-arabinosa, Papein, Papayotimin papain dan vitokinose
  • Biji : Galactosa Cacarin, Karpain
  • Getah : Papain, Kemokapain, Lisosim, Glutamin dan Siklotransferase

Khasiat-khasiat dari tanaman pepaya dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Daun : mengobati malaria, demam dan jengkolan
  • Akar : digigit ular berbisa
  • Kulit buah: kulit melepuh karena panas
  • Biji buah : beruban sebelum waktunya dan mengobati penyakit cacing gelang pada manusia
  • Buah : menyembuhkan penyakit buang air besar tiadak lancar, maag, sariawan, merangsang nafsu makan
Untuk mengatasi penyakit tetelo pada ayam kampung lakukan langkah-langkah berikut ini:

Perlakuan yang dilakukan pada ayam I
1. Ambil daun pepaya yang sudah terlihat tua, namun belum menguning
2. Letakkan pada suatu wadah atau mangkok
3. Beri air sebanyak 100 ml
4. Peras daun pepaya yang sudah diberi air hingga berwarna hijau pekat
5. Minumkan air ekstrak tersebut pada ayam dengan langkah sebagai berikut :
    a. Ayam tersebut dipegangi oleh orang lain
    b. Buka bagian mulut ayam
    c. Minumkan air perasan daun pepaya sebanyak dua sendok makan atau sekitar 5 ml
6. Minumkan air ekstrak tersebut rutin tiga kali sehari
7. Pada hari ketiga, waktu pemberian dikurangi yaitu menjadi dua kali sehari
(sumber: asra-net.blogspot.com)

Senin, 10 September 2012

Vaksinasi Ayam Broiler

Aspek Pelaksanaan Vaksinasi
Untuk menjamin keberhasilannya, pelaksanaan vaksinasi perlu mempertmbangkan berbagai aspek terkait dengan kondisi unggas dan hal-hal lainnya. Berikut beberapa aspek pelaksanaan vaksinasi.

Kondisi Ayam
Agar efeknya optimal, vaksinasi perlu memperhatikan kondisi ayam yang akan diberi vaksin. Tujuannya, agar seelah vaksinasi, tidak hanya kekebalan tubuh ayam yang meningkat, tetapi juga sebisa mungkin tidak menimblkan efek amping. Berikut beberapa vaktor dari kondisi ayam yang harus diperhatikan saat vaksinasi.
Ayam harus sehat
Ketika melaksanakan vaksinasi ayam harus diperlakukan secara khusus agar terhindar dari stres fisik berlebihan.
Pelaksanaan vaksin harus sesuai dengan rekomendasi.
Umur ayam yang harus divaksin.

Jadwal Vaksinasi
Pelaksanaan vaksinasi juga harus memperhitungkan waktu sebagai berikut.
Mengetahui waktu penyakit biasa menyerang sehingga vaksinasi dilakukan sebelum penyakit tersebut menyerang.
Jenis vaksin yang akan digunakan.
Tanggal perencanaan vaksin.

Laporan Kegiatan Vaksinasi
Setiap aktivitas vaksinasi harus tercatat dengan rapih dan dilaporkan tersendiri. Laporan ini berguna untuk melakukan evaluasi tingkat keberhasilan vaksinasi.
Tanggal pelaksanaan vaksinasi harus dicatat sebagai bahan untuk memantau hasil vaksinasi dan untuk keperluan administrasi.
Nama peruahaan dan nomor seri vaksin sebaiknya dicatat untuk memudahkan kontrol dan komplain jika ada masalah dengan vaksinasi.
Nama pelaksana vaksinasi harus dicatat karena kegagalan vaksinasi juga bisa disebabkan kesalahan pelaksana.

Menghindari Faktor yang bisa Mematikan Vaksin
Untuk menjaga kualitas, vaksin harus terhindar dari berbagai faktor berikut ini.
Sinar matahari langsung.
Kondisi panas seperti yang ditimbulkan oleh bara rokok. Karena itu, ketika sedang melakukan vaksinasi, petugas sebaiknya tidak merkok.
Deterjen dan disinfektan.
Pencampuran vaksin seperti mencampur vaksin hidup dengan pelarut, lalu dokocok dengan keras. Tindakan yang benar adalah mencampur vaksin dengan pelarut, lalu dogoyang perlahan dengan gerakan tangan membentuk angka delapan.
Pelaksanaan vaksinasi tidak sesuai dengan prosedur.
Penyimpanan tidak sesuai dengan rekomendasi produsen vaksn. Contohnya, vaksin harus disimpan di tempat yang memiliki temperatur 4-8 derajat celcius. Namun, pada pelaksanaannya, vaksin di simpan di freezer yang temperaturnya di bawah 0 derajat celcius.

Perlakuan Pascavaksinasi
Vaksinasi perlu disertai dengan perlakuan lain untuk mendapatkan hasil optimal. Berikut beberapa perlakuan setelah pelaksanaan vaksinasi.
Memberkan vitamin selama 3-5 hari, tergantung dari kondisi ayam.
Memusnahkan bekas vaksin. Memusnahkan botol atau bekas vaksin lainnya bisa dengan cara direbus atau dibakar. Peralatan vaksin seperti vaksination gun harus segera dibersihkan dan direbus.

Beberapa Jenis Penyakit yang Bisa Dicegah oleh Vaksinasi
Berikut beberapa jenis penyakit yang bisa dicegah melalui pelaksanaan vaksinasi, baik yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun protozoa.

1. Penyakit yang disebabkan oleh Virus
- Avian enccephalomyetis
- Fowl pol
- Gumboro (infectious bursal desease)
- Infectious bronchitis
- Laryngotracheitis
- Marek's desease
- Newcastle deseases

2. Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri
- Erysipelas
- Fowl cholera
- Penyakit bakteri campuran (mix bacterin)

3. Penyakit yang Disebabkan oleh Protozoa
Contoh penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang penularannya dapat dicegah melalui program vaksinasi adalah penyakit coccidiosis.

Cara Melaksanakan Vaksinasi
Ada beragam cara untuk melaksanakan vaksinasi. Saat ini, metode yang lazim dilakukan di antarannya vaksinasi melalui mata, hidung, mulut, penyuntikan, pakan, minum, dan penyemprotan.

Tetes Mata (Intra-ocular)
Vaksinasi tetes mata dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Cara pelaksanaannya sebagai berikut.
Tuangkan pelarut ke dalam botol vaksin hingga terisi 2/3 bagian botol.
Tutup botol, lalu kocok secara perlahan hingga vaksin tercampur merata.
Ganti tutup botol dengan tutup botol untuk vaksin tetes mata.
Agar vaksin cepat habis, bagi vaksin menjadi 3-4 bagian yang dipakai secara bersamaan oleh vaksinator yang berbeda.

Tetes Hidung (Intranasal)
Seperti namanya, vaksin tetes hidung dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke dalam lubang hidung. Tahapan pelaksanaan vaksinasi ini sama seperti vaksinasi tetes mata.
Melalui Mulut atau Cekok (Intraoral)
Pada metode vaksinasi mulut, vaksin diumpankan ke ayam melalui mulutnya dengan cara dicekok. Pelaksanaan vaksinasi ini sama dengan cara vaksin melalui air minum. Perbedaannya, vaksinasi dilakukan pada ayam secara individu sehingga setiap ayam mendapatkan dosis vaksin yang sama.
Contohnya, 1.000 ekor ayam akan dicekok 0,5 cc/ekor, sehingga air yang diperlukan sebanyak 500cc. Satu vil vaksin (dosis untuk 1.000 ekor) diampur dengan air akuades hingga 2/3 volume botol vaksin dan diaduk hingga tercampur merata. Setelah dituangkan ke dalam 500cc akuades. Larutan vaksin diaplikasikan melalui mulut atau dicekok.

Suntik Daging (Intramuscular)
Vaksinasi suntik daging dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin ke dalam daging. Biasanya, penyuntikan dilakukan di bagian dada dan paha. Vaksin yang disutikkan bisa berupa vaksin yang masih hdup atau sudah mati. Cara pencampuran vaksin dan banyaknya air yang dibutuhkan untuk vaksin hidup sama seperti pada vaksinasi melalui mulut. Namun, tentu saja, vaksinasi dilakukan melalui jarum sunik. Adapun pelaksanaan vaksinasinya sebagai berikut.
Sebelum digunakan, kocok vaksin ecara hati-hati hingga tercampur merata.
Suntikkan vaksin ke daging dengan dosis sesuai anjuran.
Semua peralatan yang digunakan harus steril, baik ketika melakukan vaksinasi maupun setelah digunakan.

Suntik Bawah Kulit (Subcutaneous)

Vaksinasi suntik bawah kulit dilaksanakan dengan cara mentuntikkan vaksin di bawah kulit, biasanya di area sekitar leher. Pelaksanaannya sama dengan persiapan melakukan vaksinasi suntik daging.

Melalui Air Minum (Drinking Water)
Pada vaksinasi melalui air minum, vaksin dituangkan ke dalam air yang disediakan untuk minum ayam. Air yang digunakan untuk melarutkan vaksin harus bersih dan bebas klorin. Peralatan yang harus dipakai harus bebas dari disinfektan lebih dari dua hari. Untuk memperpanjang umur vaksin, tambahkan 2-5 gram skim per liter air (tergantung dari kondisi air) ke dalam air.
Sebagai contoh, jumlah air yang digunakan untuk vaksinasi 1.000 ekor ayam yang berumur 7-4 hari adalah 10-14 hari adalah 10-20 liter. Sementara itu, ayam yang sudah dicampur dengan vaksin harus segera diberikan secara merata kepada ayam. Sebelum diberikan vaksin, ayam harus dipuasakan selama 1 jam. Disamping itu, tempat minum ayam harus terhindar dari sinar matahari langsung.

Penyemprotan (Spray)
Vaksinasi dengan cara penyemprotan sering digunakan untuk memberikan vaksin kepada ayam yang baru berumur satu hari. Sebelum ayam tersebut dimasukkan ke dalam kandang pemanas, alat semprot yang akan digunakan harus sudah terpasang sehingga boks ayam bisa langsung dimasukkan ke dalam kotak sprayer. Setelah semua peralatan siap, vasinasi segera dilaksanakan dengan cara menyemprotkan vaksin sebanyak 1-2 kali. Aplikasi vaksinasi untuk ayam besar dilakukan dengan menggunakan sprayer khusus. Aplikasi ini akan lebih efektif jika dilakukan di lingkungan yang terkontrol atau tidak banyak angin.

Tusuk Sayap (Wing web)
Vaksinasi tusuk sayap dilaksanakan dengan cara menusukkan jarum di sekitar selaput sayap ayam dari arah bagian dalam sayap. Cara melarutkan vaksin metode ini sama dengan cara melarutkan vaksin melalui tetes mata. Pelarut yang digunakan biasanya pelarut khusus untuk vaksinasi melalui tusuk sayap. Alat yang dipakai dalam vaksinasi ini berupa jarum bercabang dua.

Melalui Pakan (Feeding)
Vaksinasi melalui pakan dilaksanakan dengan cara mencampurkan vaksin ke dalam pakan ayam. Cara ini biasanya digunakan untuk pengaplikasian vaksin cocci. Pakan yang dipakai harus bebas dari preparat anticocci (amprolium, sulfaquinoxaline, dan preparat sulfa lainnya). Cara pelaksanaannya, vaksin dicampur ke dalam pakan, lalu diberikan kepada ayam. Tempat pakan yang dipakai untuk vaksinasi adalah tempat makan ayam.

Tipe Vaksin
Vaksin yang digunakan untuk program peningkatan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, terbagi dalam dua tipe, yaitu dalam bentuk vaksin hidup (live-vaccines) dan yang dilemahkan atau dimatikan (killed-vaccines),

- Vaksin Hidup (Live-Vaccines)
Dalam vaksin hidup, agen virus yang ditanamkan masih dalam keadaan hidup dan memiliki kemampuan yang lengkap untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu jenis penyakit. Dengan jenis vaksin ini, ayam akan mempunai kemampuan untuk menangkal penyakit yang menyerang dari antibodi yang dihasilkan dalam tubuh inangnya (host).

- Vaksin yang Dilemahkan (Attenuated Vaccine)
Sebagaian orang mengelompokkan jenis vaksin yang dilemahkan ke dalam jenis vaksin yang dimatikan (killed-vaciines). Vaksin yang dilemahkan dibuat dengan cara melemahkan organisme aktif.

- Vaksin yang Dimatikan (Killed Vaccine)
Organisme ini memiliki kemampuan untuk memproduksi antibodi ketika vaksin disuntikkan ke dalam tubuh.
(sumber: kaskus.us)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...