Senin, 08 Oktober 2012

Penyakit Berak Darah (Koksidiosis) dan Necrotic Enteritis

Koksidiosis dan necrotic enteritis (NE) merupakan penyakit yang sama-sama menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus. Tidak sedikit kita sering dikecohkan oleh kedua penyakit tersebut. Identifikasi secara seksama dan teliti menjadi solusi dalam mengindentifikasi kedua penyakit ini.

Koksidiosis pun masih tetap menjadi “idola” di dunia perunggasan.. Seperti telah kita ketahui, langkah pencegahan koksidiosis telah kita lakukan mulai dari penambahan koksidiostat (menekan pertumbuhan koksidia) di dalam ransum, vaksinasi maupun pengobatan. Meskipun demikian, penyakit ini tetap menjadi primadona di kalangan penyakit unggas. Bagaimana halnya dengan necrotic enteritis (NE)? Berdasarkan data yang sama (tabel 1), kasus NE relatif tidak terdeteksi. Namun hal ini bukan berarti tidak terjadi, kasus NE sering mengikuti serangan koksidiosis.

Penyebab

Koksidiosis atau berak darah merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh salah satu endoparasit, yaitu protozoa (bersel tunggal) dari genus Eimeria sp. Agen penyakit ini berbeda dengan agen penyakit lainnya, baik bakteri maupun virus terutama dalam tahapan perkembangannya dimana Eimeria sp. memiliki beberapa fase perkembangan.

Secara keseluruhan ada 12 jenis Eimeria sp. yang dibedakan berdasarkan lokasi lesi, bentuk lesi yang ditimbulkan, bentuk dan ukuran berbagai stadium perkembangannya (ookista, schizont, merozoit), lokasi Eimeria sp. di jaringan dan waktu sporulasinya. Dari ke-12 jenis Eimeria sp. tersebut ada 9 spesies yang bisa menginfeksi ayam, yaitu E. acervulina, E. brunetti, E. maxima, E. necratix, E. mivati, E. mitis, E. praecox, E. tenella dan E. hagani. Namun dari ke-9 spesies Eimeria sp. itu tidak kesemuanya bersifat patogen (bisa menimbulkan penyakit) pada ayam. Ada 5 spesies Eimeria sp. yang patogen pada ayam, yaitu E. tenella, E. maxima, E. necratix, E. acervulina dan E. brunetti.

Necrotic neteritis adalah penyakit bakterial yang bersifat sporadik pada ayam yang disebabkan infeksi Clostridium perfringens tipe A maupun C. Penyakit ini dideteksi pertama kali oleh Parish pada tahun 1961 yang menginfeksi ayam kampung. C. perfringens merupakan bakteri Gram (+) yang berbentuk batang lurus dan bersifat anaerob (tidak memerlukan oksigen).

Di lapangan sering kali ditemukan adanya serangan koksidiosis yang menstimulasi serangan necrotic enteritis. Hal tersebut terjadi karena saat serangan koksidia terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan pada ileum (usus halus) yang memicu terbentuknya kolonisasi bakteri anaerob, yaitu Clostridium perfringens. Adanya kolonisasi bakteri anaerob itu akan berlanjut dengan serangan necrotic enteritis.

Penularan Penyakit

Penularan koksidiosis maupun NE terjadi secara horizontal, baik melalui peralatan (tempat ransum, minum), ransum, air minum maupun feses yang telah tercemar oleh kedua agen penyakit tersebut. Selain itu, penularan kedua penyakit tersebut (koksidiosis dan NE) dapat terjadi secara langsung, yaitu dari ayam sakit ke ayam yang sehat.

Siapa yang Rentan ?

Semua jenis ayam pada semua umur dapat terinfeksi koksidiosis maupun NE. Serangan NE secara umum terjadi pada umur 2-6 minggu. Pada ayam pedaging yang dipelihara di kandang non slat seringkali terserang NE umur 2-5 minggu sedangkan ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai, kasus NE biasa terjadi pada umur 3-6 minggu. Kasus NE berkomplikasi dengan koksidiosis pada ayam petelur dapat terjadi pada umur 12-16 minggu.

Faktor Predisposisi

Seperti telah disebutkan, NE dan koksidiosis sering menyerang umur 2-6 dan 3-6 minggu. Hanya saja bukan suatu keniscayaan, kedua penyakit ini dapat menyerang di umur yang lainnya. Data tabel 2 juga menunjukkan hal tersebut. Beberapa hal yang dapat menjadi pemicu (faktor predisposisi, red.) outbreak NE dan koksidiosis, yaitu :

Tidak ada antibodi maternal terhadap NE dan koksidiosis menyebabkan kedua penyakit tersebut lebih mudah menyerang, terutama saat masa starter (masa awal)

Lemahnya sanitasi dan desinfeksi kandang. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, baik bakteri C. perfringens dan Eimeria sp. dapat mencemari litter, ransum, air minum maupun peralatan kandang (tempat ransum dan air minum). Lemahnya sistem sanitasi dan desinfeksi akan menyebabkan populasi kedua agen penyakit tersebut meningkat (sangat tinggi) sehingga serangan NE dan koksidiosis lebih mudah terjadi. Fenomena ini, sering kali terjadi saat masa grower dimana manajemen pemeliharaan relatif lebih “longgar” sehingga saat ayam petelur mulai berproduksi (masa produksi) outbreak NE dan koksidiosis dapat terjadi

Manajemen litter yang teledor. Kondisi litter yang lembab karena tumpukan litter yang terlalu banyak yang ditambah dengan tumpahan ransum, air minum maupun air hujan akan sangat mendukung perkembangbiakan bakteri C. perfringens dan Eimeria sp. Menjaga kondisi litter tetap kering dengan mengatur kepadatan kandang, menjaga kualitas ransum (tidak terlalu tinggi kadar garam, protein kasar) maupun mencegah heat stress (stres panas) menjadi langkah yang tepat

Penggunaan obat yang kurang tepat. Aplikasi obat NE dan koksidiosis yang kurang tepat, yaitu dosis tidak tepat dan lama pemberian yang tidak sesuai aturan pakai akan menurunkan efikasi (keampuhan) obat yang digunakan. Pemberian obat NE dan koksidiosis yang sama dalam waktu yang lama juga bisa menyebabkan terjadinya resistensi sehingga obat tersebut tidak efektif.

Secara normal, di dalam usus ayam sehat terdapat bakteri C. perfringens dalam jumlah yang aman (tidak menyebabkan terjadinya outbreak penyakit, red.). Namun, saat kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman (tantangan agen penyakit banyak, red.) maka outbreak NE dapat terjadi. Pada ayam yang mati karena NE, jumlah C. perfringens yang dapat diisolasi pada usus ialah > 107-108 CFU per gram isi usus sedangkan jumlah bakteri C. perfringens di dalam usus ayam pedaging yang sehat berkisar 0-105 CFU tiap gram isi usus.

Serangan koksidiosis yang mengakibatkan kerusakan mukosa usus juga menjadi faktor predisposisi NE yang potensial. Selain itu penggantian ransum yang dilakukan secara mendadak (drastic, red.) dan penggunaan beberapa jenis bahan baku ransum, seperti tepung ikan, gandum dan barley yang melebihi batas juga dapat mempercepat peningkatan populasi C. perfringens di dalam usus.

Infeksi dini koksidiosis biasanya ditunjukkan adanya feses ayam yang berwarna coklat gambir dengan konsistensi semacam pasta atau sedikit encer (jawa : nglancung). Jika kita jeli dengan tanda tersebut, maka penanganan cepat dengan pemberian obat koksidiosis bisa menghasilkan efek pengobatan yang optimal. Selain tanda tersebut, gejala klinis yang ditunjukkan ayam yang terserang koksidiosis antara lain nafsu makan turun, pertumbuhan terhambat, ayam terlihat pucat, bulunya kusam dan depresi.

Gejala klinis ayam terserang koksidiosis tersebut mirip dengan gejala klinis serangan NE kronis, yaitu penurunan atau kehilangan nafsu makan, depresi, bulu berdiri dan ayam bergerombol. Selain itu, baik serangan koksidiosis dan NE akan menyebabkan ayam mengalami diare. Bentuk serangan NE yang lainnya (selain kronis) ialah akut. Bentuk ini tidak menunjukkan adanya gejala klinis tetapi ayam mendadak mati.

Saat bentuk infektif Eimeria sp. termakan ayam, dimulailah siklus hidup parasit bersel satu ini. Di gizzard (tembolok) dinding kista ookista terkikis sehingga keluarlah sporozoit yang langsung menuju ke usus untuk melangsungkan siklus hidupnya. Akibatnya terjadi luka, perdarahan dan kerusakan jaringan usus.

Secara mikroskopis, kerusakan yang disebabkan infeksi Eimeria sp. ialah rusaknya sel-sel epithel mukosa usus dan perlukaan kapiler-kapiler darah di mukosa usus

Perdarahan di usus itu disebabkan robeknya pembuluh darah di epithel oleh schizont atau merozoit saat menembus menuju lumen usus. Perdarahan ini biasanya terlihat pada hari ke-4 pasca infeksi dan hari ke-5-6 perdarahan terlihat lebih banyak (terjadi perdarahan hebat di usus). Jika tidak mati, ayam akan memasuki fase penyembuhan pada hari ke-8-9. Lokasi dan tingkat keparahan perdarahan berbeda-beda antar spesies Eimeria sp. Secara lengkap, kerusakan usus akibat ke-6 spesies Eimeria sp. tercantum pada cover dalam depan Info Medion edisi ini (02/08).

Rusaknya usus akibat serangan Eimeria sp. tersebut menjadi tempat yang sangat cocok bagi bakteri C. perfringens untuk berkembang biak dan berkolonisasi. Terbentuknya koloni bakteri ini akan menghasilkan suatu toksik, yaitu toksik alfa (C. perfringens tipe A dan C) maupun toksik beta (C. perfringens tipe C) yang mampu menimbulkan nekrosa pada mukosa usus halus sehingga disebut necrotic enteritis. Perubahan pada usus akibat infeksi bakteri NE antara lain usus menjadi rapuh dan mengalami distensi akibat pembentukan gas, mukosa usus tertutup selaput yang mengerah berwarna kuning dan kadang dijumpai perdarahan mukosa usus.

Selain kerusakan pada usus, NE juga dapat mengakibatkan terjadinya cholangiohepatitis, yaitu hati mengalami pembengkakan, keras, pucat dan terdapat bintik-bintik. Kantung empedu juga membesar dan rapuh.

Di lapangan sering kali kasus komplikasi serangan koksidiosis dan NE. E. tenella dan E. necratix merupakan 2 spesies Eimeria sp. yang relatif sering berkomplikasi dengan bakteri C. perfringens.

Kerugian Karena NE dan Koksidiosis

Kerugian yang umum terjadi saat serangan NE maupun koksidiosis ialah morbiditas dan mortalitas. Tingkat kematian yang disebabkan karena NE bervariasi dari 5-15% bahkan bisa mencapai 40% sedangkan tingkat kematian karena infeksi Eimeria sp. mencapai 80-90%. Hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur juga menjadi konsekuensi yang harus ditanggung peternak saat ayamnya terinfeksi kedua agen penyakit tersebut.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kedua penyakit ini sering kali menyerang pada saat umur awal, yaitu 2-6 minggu. Saat umur awal ini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan organ internal ayam, baik sistem pencernaan, pernapasan dan reproduksi. Pertumbuhannya pun berlangsung sangat cepat. Adanya infeksi kedua penyakit itu akan menyebabkan pertumbuhan organ vital tersebut tidak optimal dan kondisi ini akan mengganggu pertumbuhan maupun produktivitas.

Kedua penyakit ini juga termasuk kelompok penyakit immunosuppresi. Beberapa mekanisme yang menyebabkan kedua penyakit ini bersifat immunosuppresif ialah :

Kerusakan jaringan mukosa usus menyebabkan proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi tidak optimal. Akibatnya terjadi defisiensi nutrisi sehingga pembentukan antibodi terganggu

Mukosa usus dan seka tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan lokal di saluran pencernaan. Kerusakan kedua organ ini mengakibatkan ayam lebih mudah terinfeksi penyakit, terutama penyakit saluran pencernaan seperti E. coli maupun Salmonella enteritidis

Pencegahan dan Penanganan

Serangan NE dan koksidiosis bisa menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Oleh karenanya upaya pencegahannya harus dilakukan secara optimal. Beberapa langkah pencegahan serangan NE dan koksidiosis yang dapat dilakukan ialah :
  • Perbaikan tata laksana
Lakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Ookista relatif tahan terhadap desinfektan dan kondisi lingkungan. Cara menghilangkannya ialah memberikan soda kaustik dan pengguyuran air panas (ookista tidak tahan suhu lebih dari 55oC)
  • Hindari litter basah dan lembab
  • Pemeliharaan ayam dengan sistem kandang slat (panggung) bisa mengurangi kedua kasus ini
  • Perhatikan kondisi ventilasi kandang
  • Atur kepadatan kandang
Langkah pencegahan koksidiosis yang dapat diterapkan juga ialah pemberian koksidiostat secara terus-menerus pada ransum dan vaksinasi koksidiosis. Pemberian koksidiostat pada ransum dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan koksidia sampai level rendah (tidak mengakibatkan outbreak penyakit). Karena koksidiostat diberikan dalam waktu lama, maka perlu dilakukan rolling jenis obat yang diberikan. Adanya koksidia pada level rendah di dalam tubuh ayam juga dapat menstimulasi pembentukan kekebalan di dalam tubuh ayam. Kekebalan akibat koksidia pada level rendah baru terbentuk setelah 3-4 siklus hidup koksidia di dalam tubuh ayam. Pemberian vaksin koksidiosis juga menjadi salah satu langkah pencegahan, hanya saja tidak ada kekebalan silang antar spesies Eimeria sp. sehingga strain vaksin koksidiosis harus sama dengan strain koksidia yang menyerang. NE juga dapat dicegah dengan melakukan penggantian ransum secara berkala (periodik) dan pemakaian tepung ikan, gandum dan barley dibatasi (jangan berlebih).

Identifikasi awal adanya serangan koksidiosis menjadi langkah penting untuk mengantisipasi terjadinya outbreak penyakit ini. Jika ada satu atau dua ekor ayam yang menggigil dan bersembunyi di belakang tempat ransum atau minum maupun adanya feses yang basah yang berlendir atau feses berdarah di daerah kloaka maka sudah selayaknya kita langsung mengarahkan paradigma kita terhadap kemungkinan adanya serangan koksidiosis maupun NE.
  • Ayam yang positif terinfeksi NE maupun koksidiosis segera dikeluarkan dari kelompoknya
  • Segera buang feses ayam yang bercampur dengan darah. 
Warna merah darah sangat mudah menarik perhatian ayam untuk mematuknya sedangkan kita tahu feses inilah yang menjadi sarana penularan paling efektif

Pada kasus koksidiosis berikan obat koksidiosis secara tepat, baik dosis maupun aturan pakai. Obat koksidiosis biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yaitu 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa obat dan 3 hari obat. Golongan obat koksidiosis yang sering digunakan ialah :
  • Sulfonamida
Obat koksidiosis golongan ini lebih efektif untuk mengatasi intestinal coccidia, yaitu E. acervulina dan E. maxima namun sulfaquinoxaline dan sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk cecal coccidia (E. tenella). Potensi obat akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin). Contoh produknya ialah Coxy dan Sulfamix (sulfonamida tunggal), Antikoksi, Duoko, Maladex dan Trimezyn (sulfonamida kombinasi).
  • Thiamine antagonist
Amprolium ialah obat koksidiosis golongan thiamine antagonist. Jika dikombinasikan dengan sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi terhadap intestinal dan caecal coccidia. Produk yang mengandung amprolium yaitu Therapy, Koksidex.

Guna mencegah resistensi hendaknya kita melakukan rolling pemberian antikoksidiosis. Selain itu, karena keterbatasan jenis antikoksidiosis maka teknik pengobatan harus dilakukan dengan benar, yaitu dosis, lama pengobatan maupun kualitas air yang digunakan untuk melarutkan obat.

Untuk mengatasi serangan NE kita dapat memberikan antimikrobia dari golongan penicilin, makrolida, tetrasiklin, fluoroquinolon maupun sulfonamid. Produk yang dapat diberikan saat kasus serangan NE ialah Ampicol, Doxytin, Koleridin, Doctril atau Neo Meditril.

Sedangkan saat terjadi komplikasi antara NE dan koksidiosis, obat yang dapat diberikan antara lain Therapy atau Duoko.

Pemberian terapi supportif, baik saat terjadi serangan NE dan koksidiosis tunggal maupun komplikasi sangat dibutuhkan untuk mempercepat kesembuhan. Fortevit atau Vita Stress merupakan produk yang dapat digunakan sebagai terapi supportif. Kandungan vitamin A dan K dalam produk tersebut sangat diperlukan untuk memperbaiki sel-sel mukosa usus yang rusak dan menghentikan perdarahan. Selain itu kedua vitamin itu, pemberian asam folat bisa membantu mengatasi efek samping penghambatan sintesis asam folat saat pemberian obat golongan sulfonamid. Namun pemberian terapi suportif itu sebaiknya dilakukan setelah pengobatan dengan sulfonamid dan atau amprolium selesai karena ada efek antagonis antar keduanya.
(sumber: infomedion.co.id)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...